Jumat, 30 Desember 2011

Study Kasus G2P1Ao dengan Anemia Ringan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            kehamilan di definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan  dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. (Sarwono, 2008 : hal 213). Kehamilan, persalinan dan nifas pada dasarnya merupakan proses alamiah yang di alami oleh seorang  wanita.
            Asuhan persalinan normal merupakan upaya kelangsungan hidup untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayi melalui berbagai upaya yang terintegrasi serta intervensi sehingga prinsip keamanan dan kwalitas pelayanan dapat terjaga optimal. Melalui pendekatan asuhan persalinan normal harus didukung oleh adanya alasan serta berbagai bukti ilmiah yang dapat menunjukkan adanya manfaat yang di aplikasikan pada persalinan. Setiap persalinan selalu mempunyai potensi terjadinya resiko salah satunya perdarahan post partum. Frekuensi perdarahan Post Partum yang di laporkan baik di negara maju maupun negara berkembang berkisar antara 5 % - 15% (Mochtar, 1998 ; 298).  
            Walaupun 85% persalinan berjalan normal, namun 15% dengan komplikasi yang memerlukan penanganan khusus bila tidak di pantau secara intensif, dapat terjadi penyimpangan atau  kelainan. Agar  kehamilan, persalinan dan nifas berjalan  lancar  maka diperlukan  pelayanan  kebidanan dengan  standar yang efektif  yaitu suatu standar yang dapat di observasi dan diukur, realistis, mudah dilakukan dan di butuhkan ( Pusdiknakes, 2003 : Hal 8 ).Jika semua tenaga penolong persalinan di latih agar mampu mendeteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi, menerapkan asuhan persalinan normal secara tepat waktu, bai sebelum ataupun saat masalah terjadi dan segera melakukan rujukan agar mendapat pertolongan sehingga ibu dan janin selamat. 
            Sesuai rencana strategik Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di indonesia disebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju indonesia sehat 2010 adalah kehamilan dan persalinan di indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.

1.2  Tujuan Penulisan
1.2.1      Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu hami, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan anemia ringan melalui pendekatan manajemen kebidanan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
1.2.2        Tujuan Khusus
a.       Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan anemia.
b.      Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan anemia.
c.       Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan anemia.
d.      Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir.
e.       Mampu melaksanakan pendokumentasian dengan SOAP secara komprehensif.

1.3  Perumusan Masalah
Banyaknya kasus anemia dalam kehamilan. Maka penulis mencoba merumuskan asuhan kebidanan pada kehamilan dan persalinan dengan anemia ringan pada makalah ini.





1.4  Ruang Lingkup Pembahasan
Adapun ruang lingkup dari laporan studi kasus ini adalah penulis melakukan pemantauan dan pemeriksaan pada Ny.T di mulai sejak usia kandungan 35 minggu 3 hari yaitu tanggal 17 oktober 2010 sampai dengan nifas 6 minggu yaitu tanggal 9 januari 2011 di BPS Bidan ”A”, Bekasi Utara.

1.5  Manfaat Penulisan
1.5.1  Bagi BPS dan Tenaga Kesehatan
Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi masukan positif bagi bidan di BPS ”A” untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan khususnya, pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir serta nifas.

1.5.2  Bagi Institusi Pendidikan
a.    Dapat memberikan informasi tambahan sehingga dapat meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan kebidanan.
b.   Dapat memberikan keterampilan melalui bimbingan pengetahuan kepada mahasiswa yang akan menjadi tenaga kesehatan nantinya.

1.5.3  Bagi Penulis
Studi kasus ini di harapkan dapat memberikan motivasi untuk melakukan asuhan kebidanan pada Ny. T, kepada ibu hamil, Ibu bersalin dan nifas dengan anemia ringan serta BBL yang berhubungan dengan upaya peningkatan kesehatan serta penurunan AKI dan AKB. Serta dapat mengaplikasikan teori dan ilmu yang di peroleh selama perkuliahan dan selam di lahan praktek.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  KEHAMILAN

2.1.1        Pengertian
1.   Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan di lanjutkam dengan nidasi atau implantasi. (sarwono, 2008)
2.   Kehamilan adalah penyatuan sperma dari laki-laki dan ovum dari perempuan (H.farrer,1993:33)
3.   Kehamilan normal adalah Masa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir (kehamilan normal, acuan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2001).
4.   Kehamilan adalah pertemuan sel mani (sperma) suami dan sel telur dari istri dalam saluran kemudian melakukan nidasi kemudian bekembang dalam rahim (Suryani Manurung, Ns, S.Kep,Jakarta 2006)

Kehamilan di bagi menjadi 3 trimester, yaitu :
a.       Trimester pertama : Dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan
b.       Trimester kedua   : Dari bulan keempat sampai 6 bulan
c.       Trimester ketiga    : Dari bulan ketujuh sampai 9  bulan
(Saifuddin, 2006)


Kehamilan  40 minggu ini disebut kehamilam matur (cukup bulan). Bila kehamilan  lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur.  Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur (Wiknjosastro, 2006).

2.      Tanda Pasti Kehamilan

      Menurut Wiknjosastro (2007) gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu, oleh karena sesudah berpengalaman dari kehamilan terdahulu gerakan janin kadang-kadang pada kehamilan 20 minggu diraba secara objektif oleh pemeriksa, balotemen dalam uterus dapat diraba pada kehamilan lebih tua. Bila dilakukan pemeriksaan dengan sinar rontgen kerangka vetus dapat dilihat. Dengan alat fetal elektro cardiography denyut jantung janin dapat dicatat pada kehamilan 12 minggu.
      Dengan memakai alat system doppler dapat pula di catat denyut jantung. Keuntungannya cara terakhir ini adalah bahwa janin tidak terpengaruh seperti oleh sinar rontgen. Dengan stetoskop laennec bunyi jantung janin dapat didengar pada kehamilan 18 sampai 20 minggu. Dapat pula didengar bising dari uterus yang sinkron dengan nadi ibu karena pembuluh-pembuluh darah uterus membesar.
      Dalam triwulan terakhir gerakan janin lebih gesit. Bunyi jantung janin dapat pula di dengar lebih jelas. Bagian-bagian janin, ialah kepala dan bokong, dan bagian-bagian kecil, kaki dan lengan dapat diraba dengan jelas. Pada primigravida kepala janin mulai turun pada kehamilan kira-kira 30 minggu. Sedangkan pada multigravida pada kira-kira 38 minggu, kadang-kadang baru pada permulaan partus.


Dari keseluruhan yang diuraikan diatas, maka diagnosa pasti kehamilan dapat dibuat bila :
a).    Dapat diraba dan kemudian dikenal bagian-bagian janin.
b).    Dapat dicatat dan didengar bunyi jantung janin dengan beberapa cara.
c).    Dapat dirasakan gerakan janin dan balotemen.
d).   Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin.
e).    Dengan ultrasonografi (Scanning) dapat diketahui ukuran kantong janin, panjangnya janin.
f).     (Crown-rump), dan diameter biparitalis hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan, selanjutnya dapat dipakai  untuk menilai pertumbuhan janin. Pula dapat dipakai bila ada kecurigaan kehamilan mola, blighted ovum, kematian janin intrauterin, anensefali, kehamilan ganda, hidramion, plasenta previa, dan tumor pelvis. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada kehamilan 16-18 minggu yang diperkirakan aman memang menjadi pegangan untuk pasien dan dokternya untuk pengawasan kehamilan lebih yakin dan mantap.
g).    Fetoskopi.
1)            Diagnosis Banding Kehamilan
Menurut Wiknjosastro (2007) diagnosa banding kehamilan, diantaranya yaitu :
a).    Pseudosiesis (hamil palsu)
                      Terdapat aminore, perut membesar, tetapi tanda-tanda kehamilan lain dan reaksi kehamilan negatif. Uterus sebesar biasa. Wanita tersebut mengaku dirinya hamil, tetapi sebenarnya tidak hamil. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang ingin sekali hamil.
b).    Kistoma ovari
                               Mungkin ada aminorea, perut penderita makin besar, tetapi uterusnya sebesar biasa.
c).    Mioma uteri
                               Dapat terjadi aminorea, perut penderita makin besar, uterusnya makin besar, kadang-kadang tidak merata. Akan tetapi tanda-tanda kehamilan seperti tanda Braxton-Hicks dan reaksi kehamilan negatif.
d).                 Vesika urinaria dengan retensio urinae
                               Uterus sendiri biasanya besar, tanda-tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.
e).                  Menopause
                  Terdapat aminore umur wanita kira-kira diatas 43 tahun.Uterus sendiri sebesar biasa, tanda-tanda kehamilan dan reasksi kehamilan negatif.

3.                  Perubahan Fisik Pada Kehamilan
a.                   Perubahan Pada Sistem Reproduksi
Menurut Manuaba (2007) perubahan pada sistem reproduksi meliputi :
1)            Uterus
a).    Ukuran : untuk akomodasi pertumbuhan janin, rahim membesar akibat hipertrofi dan hiperplasi otot polos rahim. Serabut – serabut kolagennya menjadi higroskopik. Endometrium menjadi desidua, ukuran pada kehamilan cukup bulan : 30×25×20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc.
b).    Berat : berat uterus naik secara luar biasa. Dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 minggu).
c).    Bentuk dan konsistensi : pada bulan –bulan pertama kehamilan bentuk rahim seperti buah alpukat. Pada kehamilan 4 bulan bentuk bulat, dan akhir kehamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira – kira  sebesar telur ayam. Pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi cairan ketuban. Dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian – bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim.
d).   Posisi rahim dalam kehamilan : pada permulaan kehamilan rahim dalam letak antefleksi atau retrofleksi. Pada 4 bulan kehamilan rahim tetap berada dalam rongga pelvis. Setelah itu mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati. Rahim yang hamil biasanya bergerak, lebih mengisi rongga abdomen kanan atau kiri.
e).    Vaskularisasi : aorta uterine dan aorta ovarika bertambah dalam diameter panjang dan anak – anak cabangnya. Pembuluh darah balik (vena) mengembang dan bertambah.
f).     Serviks uteri: serviks bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak (soft) disebut tanda Goodell. Kelenjar endoservikal membesar dan banyak mengeluarkan cairan mucus. Karena bertambah dan pelebaran pembuluh darah.
2)      Indung Telur (Ovarium)
Ovulasi akan terhenti, masih terdapat korpus luteum gravidarum sampai terbentuknya uri yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesterone.
3)                              Vagina dan Vulva
Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan vulva. Akibat vaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan. Warna livid pada vagina dan portio serviks disebut tanda Chadwick.
4)                              Dinding Perut (Abdominal wall)
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan obeknya serabut elastis dibawah kulit, sehingga timbul striae gravidarum. Bila terjadi peregangan yang hebat, misalnya pada hidramnion dan kehamilan ganda dapat terjadi diastatis rekti bahkan hernia. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut linea nigra.
b.                              Perubahan Pada Organ dan Sistem Lainnya
Menurut Manuaba (2007) perubahan pada organ dan sistem lainnya meliputi :
1)      Sistem Sirkulasi Darah
a).    Volume darah : volume darah total dan plasma darah naik sejak akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak kira – kira 25 % dengan puncaknya kehamilan 32 minggu. Diikuti curah jantung yang meningkat sebanyak + 30 %. Akibat haemodilusi yang mulai jelas kelihatan pada kehamilan 4 bulan. Ibu yang menderita penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis. Kenaikan plasma darah dapat mencapai 40 %  saat mendekati cukup bulan.
b).    Protein darah : gambaran protein dalam serum berubah, jumlah protein, albumin dan gamaglobulin menurun dalam triwulan pertama dan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan. Beta-globulin dan fibrinogen terus meningkat.
c).    Hitung jenis dan haemoglobin : hematokrit cenderung menurun karena kenaikan relative volume plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk memenuhi kebutuhan transport O2 yang sangat diperlukan selama kehamilan. Konsentrasi Hb terlihat menurun walaupun sebenarnya lebih besar dibandingkan Hb pada orang yang tidak hamil. Anemia fisiologis ini disebabkan oleh volume plasma yang meningkat dalam kehamilan. Leukosit meningkat sampai 10.000/ml, begitu pula dengan produksi trombosit.
d).   Nadi dan tekanan darah : tekanan darah arteri cenderung menurun terutama selama trimester kedua dan kemudian akan naik lagi seperti pada pra-hamil. Tekanan vena dalam batas-batas normal pada ekstremitas atas dan bawah cenderung naik setelah akhir trimester pertama. Nadi biasanya naik, nilai rata-ratanya 84×/menit.
e).    Jantung : pompa jantung mulai naik kira-kira 30% setelah kehamilan 3 bulan dan menurun lagi pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Elektrokardiogram kadang kala memperlihatkan deviasi aksis kekiri.

2)      Sistem Pernapasan
Wanita hamil kadang-kadang mengeluh sesak dan pendek napas. Hal ini disebabkan oleh usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim. Kapasitas vital paru meningkat sedikit selama hamil. Seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam. Yang lebih menonjol adalah pernapasan dada.
3)      Traktus Digestivus
Salivasi meningkat pada trimester pertama, mengeluh mual dan muntah. Tonus otot-otot saluran pencernaan melemah sehingga motilitas dan makanan akan lebih lama berada dalam saluran pencernaan. Reabsorbsi makanan baik namun akan menimbulkan obstipasi. Gejala muntah (emesis gravidarum) sering terjadi, biasanya pada pagi hari disebut morning sickness.

4)      Kulit
Pada derah kulit tertentu terjadi hiperpigmentasi :
a).    Muka : disebut masker kehamilan (chloasma gravida).
b).    Payudara : putting susu dan aerola payudara.
c).    Perut : linea nigra, striae.
d).   Vulva.
5)      Kelenjar Endokrin
a).    Kelenjar tiroid : dapat membesar sedikit.
b).                Kelenjar hipofise :dapat membesar terutama lobus anterior.
c).                Kelenjar adrenal : tiadak begitu terpengaruh.
c.       Perubahan Fisik Pada Maternal dan Janin
            Menurut Manuaba (2007) perubahan fisik pada maternal dan janin meliputi :
1)      Perubahan–perubahan Maternal
Suatu kehamilan normal biasanya berlangsung 280 hari. Selama ini terjadi perubahan yang menakjubkan baik pada ibu maupun perkembangan janin. Janin berkembang dari dua sel ke suatu bentuk yang mampu hidup diluar uterus. Badan ibu berubah untuk mendukung perkembangan dari kehidupan baru dan untuk menyiapkan memasukinya janin kedunia luar (diluar rahim ibunya).
a).    Trimester pertama : tanda fisik pertama yang dapat dilihat pada beberapa ibu adalah perdarahan sedikit atau “spotting” sekitar 11 hari setelah konsepsi pada saat embrio melekat pada lapisan uterus. Jika seorang ibu mempunyai siklus menstruasi 28 hari, perdarahan ini terjadi beberapa hari sebelum ia akan mendapat menstruasi. Perdarahan implantasi ini biasanya kurang dari lamanya menstruasi yang normal. Setelah terlambat satu periode menstruasi, perubahan fisik berikutnya adalah nyeri dan pembesaran payudara diikuti dengan rasa kelelahan yang kronis atau  menetap atau sering kencing. Itu akan mengalami dua gejala yang terakhir selama tiga bulan berikutnya. “morning sickness” atau mual dan muntah biasanya dimulai sekitar 8 minggu dan mungkin berakhir sampai 12 minggu. Pada usia kehamilan 12 minggu pertumbuhan uterus diatas simpisis pubis bisa dirasakan. Ibu biasanya mengalami kenaikan berat badan sekitar 1 – 2 kg selama trimester pertama.
b).    Trimester kedua :  Uterus akan terus tumbuh.  Pada usia kehamilan 16 minggu uterus biasanya berada pada pertengahan antara simpisis pubis dan  pusat. Penambahan berat badan sekitar 0,4 – 0,5 kg/minggu. Ibu mungkin akan mulai merasa mempunyai banyak energi. Pada usia kehamilan 20 minggu fundus berada dekat dengan pusat. Payudara mulai mngeluarkan kolostrum. Ibu merasakan gerakan janinnya. Ia juga mengalami perubahan yang normal pada kulit yang meliputi adanya kloasma, linea nigra, dan striae gravidarum.
c).    Trimester ketiga : Pada  usia kehamilan 28 minggu fundus berada pada pertengahan antara pusat dan xiphoid. Pada usia kehamilan 32-36 minggu fundus mencapai prosesus xiphoid. Payudara penuh dan nyeri tekan. Sering kencing kembali terjadi. Sekitar usia kehamilan 39 minggu bayi masuk dan turun kedalam panggul. Sakit punggung dan sering kencing meningkat. Ibu mungkin menjadi sulit tidur. Kontraksi braxston hicks meningkat.

2)    Perubahan-perubahan Janin

a).    Trimester pertama : Dari gumpalan sel yang kecil, embrio berkembang dengan pesat menjadi janin. Pada akhir 12 minggu pertama kehamilan, jantung berdetak, usus-usus lengkap di dalam abdomen, genitalia eksternal mempunyai karaksteristik laki-laki atau perempuan, anus sudah terbentuk dan muka seperti manusia. Janin dapat menelan, melakukan gerakan pernafasan, kencing menggerakan anggota badan, mengedipkan mata dan mengerutkan dahi. Mulutnya membuka dan menutup. Berat janin sekitar 15-30 gr dan panjang sekitar 56-67 mm.
b).    Trimester kedua dan ketiga : Pada akhir kehamilan 20 minggu berat janin sekitar 340 gr dan panjang 16-17 cm. Ibu dapat merasakan gerakan bayi, sudah terdapat mekonium didalam usus, dan sudah terdapat verniks pada kulit. Pada usia kehamilan 28 minggu berat bayi lebih sedikit dari 1 kg dan panjangnya 23 cm, ia mempunyai periode tidur dan beraktivitas, merespon pada suara, dan melakukan gerakan pada pernafasan. Pada usia kehamilan 32 minggu berat bayi 1,7 kg dan panjangnya 28 cm, kulitnya mengerut, dan testis telah turun ke skrotum pada bayi laki-laki. Pada usia kehamilan 36-40 minggu, jika ibunya mendapatkan gizi yang cukup, kebanyakan berat bayinya antara 3-3,5 kg dan panjang badanya 50 cm.
  c).  Diagnosa Kehamilan
1)      Tanda dan gejala kehamilan
Menurut Wiknjosastro (2007) pada wanita hamil terdapat beberapa tanda atau gejala, antara lain sebagai berikut :
a).    Aminorea (Tidak dapat haid)
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.
b).    Nausea (Enek) dan emesis (muntah)
Enek terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadang-kadang oleh emisis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas-batas tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum.
c).    Mengidam (Mengingini makanan atau minuman tertentu)
Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.



d).   Pingsan
Sering di jumpai bila berada di tempat-tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat ramai pada bulan-bulan pertama kehamilan. Hilang sesudah kehamilan 16 minggu.
e).    Mammae menjadi tegang dan membesar
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progresteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mammae. Grandula montgomery tampak lebih jelas.
f).     Anoreksia (tidak ada nafsu makan)
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi. Hendaknya di jaga jangan sampai salah pengertian makan untuk “dua orang”, sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
g).    Sering kencing
Sering terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada triwulan kedua umunya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul pada akhir triwulan gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kembali kandung kencing.
h).    Obtipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon steroid.
i).      Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung dan dahi kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Areola mammae juga menjadi lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebih, daerah leher manjadi hitam (linea grisea). Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh dari hormon kortiko-steroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
j).      Epulis
Epulis adalah suatu hipertrofi papilla gingivae. Sering terjadi pada triwulan pertama.
k).    Varises
Sering dijumpai pada triwulan terakhir. Didapat pada daerah ganitalia eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multi grafida kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul kembali pada triwulan pertama. Kadang-kadang timbulnya varises merupakan gejala pertama kehamilan muda.
l).      Tanda Hegar
Hipertropi ismus pada triwulan pertama membuat ismus menjadi panjang dan lebih lunak.
m).  Tanda Chadwick
      Warna lipid pada vagina dan portio serviks akibat pengaruh hormon estrogen.
n).    Tanda piscaseck
Uterus membesar kesalah satu jurusan hingga menonjol jelas kejurusan pembesaran tersebut.
o).    Tanda Braxton-Hicks
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak ada kehamilan misalnya pada mioma uteri, tanda Braxton-Hicks tidak ditemukan.
p).    Suhu basal
Suhu basal sesudah ovulasi tetap tinggi antara 37,2 °C sampai  37,8 oC adalah salah satu tanda akan adanya kehamilan. Gejala ini sering dipakai dalam pemeriksaan kemandulan.
q).    Cara khas yang dipakai untuk menentukan humam chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pagi hari. Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu membuat diagnosis kehamilan sedini-dininya.








4.      Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan (Anternatal Care)
a.       Definisi ANC
Antenatal care adalah pengawasan pada wanita yang hamil untuk membantu menyiapkan fisik dan mental sebaik-baiknya agar selamat ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan nifas. Sehingga pada saat postpartum mereka dalam keadaan sehat dan normal baik fisik maupun mental  (Wiknjosastro , 2002).

b.                 Tujuan ANC
1)      Tujuan umum
  Mempersiapkan fisik dan mental ibu serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas agar sehat dan normal setelah ibu melahirkan (Mansjoer, 2001).
2)      Tujuan khusus asuhan antenatal
Tujuan khusus asuhan antenatal menurut Saifuddin (2002) yaitu sebagai berikut :
a)       Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang bayi.
b)      Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
c)       Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d)      Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e)       Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
f)       Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
c.       Kebijaksanaan Program
Menurut Saefuddin (2006) kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan sedikitnya   4 kali selama masa kehamilan :
1)                  Satu kali pada triwulan pertama.
2)                  Satu kali pada triwulan kedua.
3)                  Dua kali pada triwulan ketiga.
Pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7T” :
1)                  (Timbang) barat badan.
2)                  Ukur (Tekanan) darah.
3)                  Ukur (Tinggi) fundus uteri.
4)                  Pemberian Imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap.
5)                  Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
6)                  Tes terhadap penyakit menular seksual.
7)                  Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

d.                 Kebijakan Teknis
            Menurut Saefuddin (2006), penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1)      Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2)      Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan.
3)      Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4)      Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.
5)      Pemberian vitamin zat besi.
6)      Pemberian imunisasi TT lengkap.
e.                  Konsep Pemeriksaan
Menurut Manuaba (2007) konsep pemeriksaan sebagai berikut :
1)      Anamnesa
  Terdiri dari anamnesa tentang identitas dan anamnesa tentang obstetric (kehamilan keberapa, riwayat kehamilan atau persalinan), haid terakhir.
2)      Pemeriksaan fisik terdiri dari :
a)       Pemeriksaan fisik umum (keadaan umum, pemeriksaan tanda vital).
b)      Pemeriksaan khusus obstetric seperti :
(1)   Inspeksi (TFU, keadaan dinding abdomen, gerak janin).
(2)   Palpasi (terdiri dari  menurut knebel , buddin,  ahfeld dan leopold). Palpasi yang sering digunakan adalah secara leopold, palpasi perut dilakukan untuk menentukan besar dan konsistensi rahim, bagian-bagian janin letak, presentasi dan gerakan jenis serta kontraksi braxton-hicks dan his.
Adapun manufer palpasi menurut leopold :
(a)    Leopold I : Untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian yang berada pada bagian fundus.
(b)   Leopold II : Untuk mengetahui letak janin memanjang atau melintang, dan bagian janin yang teraba diseblah kiri atau  kanan.
(c)    Leopold III :  Untuk menentukan bagian janin yang ada di bawah (presentasi).
(d)   Leopold IV : Untuk menentukan apakah bagian bawah masuk panggul atau belum
(Kusmiati, 2009).
(3)   Perkusi (tanda cairan bebas).
(4)   Auskultasi (bising usus, denyut jantung janin, dan gerak jantung janin intrauterine).
(5)   Pemeriksaan dalam (pembukaan,perlunakan serviks, ketuban, penurunan bagian terendah, pelvimetri panggul).
(6)   Pemeriksaan tambahan (laboratorium, ultrasonografi, tes air ketuban, tes bakteriologis).
3)      Diagnosis
4)      Sikap
5)      Diagnosis banding
6)      Prognosa
f.                  Nasehat-nasehat Yang Harus Diberikan Kepada Ibu Hamil
                   Menurut Wiknjosastro (2007), nasehat-nasehat yang harus diberikan kepada ibu hamil meliputi :
1)      Koitus
Bila dalam anamnesis ada abortus sebelum kehamilan yang sekarang, sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk, serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan, jika kepala sudah masuk dalam rongga panggul, koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan pendarahan.
2)      Kebersihan dan pakaian
            Kebersihan harus selalu di jaga pada masa kehamilan. Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai. Jika telah sering hamil, maka pemakain setagen  untuk menunjang otot-otot perut baik dinasehatkan. Sepatu atau alas kaki lain dengan tumit yang tinggi sebaiknya jangan dipakai, oleh karena tempat berat wanita hamil berubah, sehingga mudah tergelincir atau jatuh.
3)      Diet dan pengawasan berat badan
Hal ini penting dalam pengawasan ibu hamil. Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada wanita hamil tersebut. Kekurangan makanan dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inersia uteri, hemoragia postpartum, sepsis puerperalis, dan sebagainya. Sedang makan secara berlebihan karena wanita tersebut salah mengerti bahwa ia makan untuk “dua orang” dapat pula mengakibatkan komplikasi antara lain pre-eklampsia, bayi terlalu besar, dan sebagainya. Anjurkanlah wanita tersebut makan secukupnya saja. Bahan makanan tidak perlu mahal, akan tetapi cukup menandung protein baik hewani atau nabati. Seperti diketahui, kebutuhan akan gizi selama kehamilan meningkat. Adapun kebutuhan ini dipergunakan untuk antara lain pertumbuhan plasenta, pertambahan volume darah, mammai yang membesar, dan metabolisme basal yang meningkat. Tentang kebutuhan protein, mineral, dan vitamin pada pada waktu hamil rata-rata antara 6,5 kg sampai 16 kg. Bila berat badan naik lebih dari semestinya, anjurkan untuk mengurangi, terlebih-lebih sayur-mayur dan buah-buahan. Bila berat badan tetap saja atau menurun semua makanan dianjurkan, terutama yang mengandung protein dan besi. Seandainya  terdapat edema pada kaki dan tangan sedangkan kenaikan berat sesuai dengan kehamilan, maka anjurkan untuk tidak memakan makanan yang mengandung garam atau makanan yang kaya akan ion natrium dan klorida. Waktu hamil hendaknya diberikan pula pengertian tentang keluarga berencana.
4)                                    Perawatan Gigi
Pada triwulan pertama wanita hamil mengalami enek dan muntah (morning sickness). Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan dengan baik, sehingga timbul karies, gingivitis, dan sebagainya. Tindakan penambalan gigi dan pencabutan gigi jarang merupakan kontraindikasi.
Bila kerusakan-kerusakan gigi ini tidak diperhatikan dengan baik, hal itu dapat mengakibatkan komplikasi, seperti nefritis, septikemia, sepsis puerperalis, oleh karena infeksi di rongga mulut, misalnya purpitis yang telah menahun, dapat menjadi sarang infeksi yang menyebar kemana-mana. Maka dari itu bila keadaan mengijinkan, tiap wanita hamil harus memeriksakan giginya secara teratur sewaktu hamil. 
5)      Imunisasi
Tiap wanita hamil yang akan bepergian keluar negeri dan didalam negeri dibolehkan mengambil vaksinasi ulangan terhadap cacar, kolera dan tifus. Di Indonesia dahulu pencacaran merupakan suatu keharusan bagi tiap penduduk maka untuk wanita hamil pencacaran itu umumnya merupakan pencacaran ulangan dan tidak seberapa membahayakan. Akan tetapi bila ada wabah, maka pencacaran biarpun untuk pertama kali hendaknya tetap dijalankan untuk melindung ibu dan janin. Infeksi janin melalui plasenta dapat terjadi dan variola rupanya dapat berkaitan fatal bagi janin. Virus vaksin dapat  melintasi plasenta dan dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada macam-macam alat dan plasenta. Umum berpendapat bahwa infeksi transplasental itu hanya terjadi pada wanita hamil yang baru pertama kali dicacar. Maka dari itu dianjurkan agar pencacaran pertama sebaiknya dilakukan sebelum tua kehamilan melewati 20 minggu.
Untuk melindungi janin yang akan dilahirkan terhadap tetanus neonatonum dewasa ini dianjurkan untuk diberikan toxoid tetanus pada ibu hamil.
6)      Merokok
            Adalah kenyataan bahwa wanita-wanita yang terlalu banyak merokok melahirkan anak yang lebih kecil, atau mudah mengalami abortus dan partus prematurus. Maka dari itu, sebaiknya wanita hamil dilarang merokok.
7)      Pemberian obat
            Sepertinya telah diuraikan diatas, jangan memberikan obat yang tidak perlu benar, terutama pada triwulan I dan II kehamilan. Ada obat yang teratogenik sehingga dapat menimbulkan kelainan organik pada janin. Terkenal misalnya talidomide, yang sekarang telah ditarik dari peredaran. Ada pula golongan obat yang dapat menimbulkan his sehingga terjadi abortus atau partus prematurus.
8)      Wanita Pekerja
            Wanita hamil boleh bekerja, tetapi jangan terlampau berat, lakukanlah istirahat sebanyak mungkin menurut undang-undang perburuhan wanita hamil berhak mendapat cuti hamil satu setengah bulan sebelum bersalin dan satu setengah bulan setelah bersalin. Hendaknya nasehati pada wanita hamil agar segera kedokter atau kerumah sakit bila terjadi pendarahan pervagina. Demikian pula bila ada rasa sakit perut, bila suhu badanya naik tinggi, berkeringat banyak, pengelihatan berkurang atau mata berkunang-kunang, kencing sedikit , keluar cairan dari vagina, dan sebangainya. Pada minggu-minggu terakhir, tanda-tanda permulaan persalinan secara sederhanana harus diberitahukan pada wanita hamil.
9)      Kesehatan Jiwa
Ketenangan jiwa penting dalam menghadapi persalinan, karena itu dianjurkan bukan saja melakukan laatihan-latihan fisik namun juga latihan kejiwaan untuk menghadapi persalinan. Walapun peristiwa kehamilan dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenang, merasa kawatir dalam hal ini. Untuk menghilangkan cemas harus di tanamkan kerjasama antara pasien dengan penolong dan diberikan penerangan selagi hamil dengan  tujuan :
a).          Menghilangkan ketidaktahuan.
b).          Latihan-latihan fisik dan kejiwaan.
c).          Mendidik cara-cara perawatan bayi.
d).         Berdiskusi tentang peristiwa persalinan fisiologik.


B.                 ANEMIA DALAM  KEHAMILAM
1.                                                                                                Definisi Anemia
                        Menurut situs Wikipedia, anemia (berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tanpa darah”) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah Hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Hemoglobin terbentuk dari rantai-rantai asam amino dan zat besi (hhtp://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/09/suka-makanminum-es-mungkin-anda-menderita-anemia-defisiensi-besi).
           Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dibawah 11 g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 g%  pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dangan kondisi wanita  hamil terjadi hemodilusi, terutama pada trimester2 ( Saifuddin, 2006).
a.       Tingkatan Anemia Pada Ibu Hamil Berdasarkan Kadar Hb menurut Depkes RI, (2004)
Tingkatan Anemia
Hb level (gr/100 ml)
Normal
> 11
Ringan
8 – 11
Berat
< 8

b.      Etiologi
           Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara  fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama-tama pengeceran itu meringankan beban jantung yang harus berkerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hieremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan bila viskositas darah  rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyak unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu kental. Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32–36 minggu (Wiknjosastro, 2006).
           Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidermia atau hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah merah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah (Hemodelusi). Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30 %, sel darah 18 % dan hemoglobin 19 % (Wiknjosastro, 2006).
           Menurut Depkes RI, (2004) anemia pada ibu hamil dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1)        Karena kekurangan zat gizi untuk pembentukan darah misalnya zat   besi, asam folat, vitamin B12, tetapi yang banyak dialami adalah karena kekurangan zat besi atau disebut anemia defisiensi besi.
2)        Terjadinya gangguan penyerapan zat besi didalam usus. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan pencernaan atas dikonsumsinya substansi penghambat seperti kopi, teh, atau serat makanan tertentu tanpa asupan zat besi yang cukup.
3)        Terjadinya gangguan metabolisme Fe akibat penyakit tertentu. Beberapa anemia disebabkan oleh gangguan metabolisma Fe akibat penyakit infeksi, penyakit menahun, serta ditemukan adanya hubungan antara infeksi virus dengan anemia aplastik.
4)         Pemakain obat tertentu. Pemakain obat antasida bisa menghambat penyarapan zat besi dalam usus, sehingga jumlah zat besi untuk membangun sel darah semakin berkurang.
5)        Efek dari kehamilan. Pada kehamilan tri semester II dan III volume darah dalam tubuh wanita meningkat 35%, ini berarti ekifalen dengan 450 ml zat besi untuk memproduksi sel-sel darah merah.
c.       Klasifikasi anemia menurut Wiknjosastro, (2006) adalah :
1)      Anemia defisiansi besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur  besi dalam makanan, karana gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
2)      Anemia megaloblastik
Disebabkan karena defisiansi asam folik (peteroylglutamic acid), jarang  sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).
3)      Anemia hipoplastik
Disebabkan sumsum tulang kurang membuat sel-sel darah baru.
4)        Anemia hemolitik
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya.
d.      Tanda dan gejala
           Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, dan pandangan berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk. Selain itu, wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku penderita tampak pucat. Apabila anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak napas, bahkan lemah jantung (Depkes RI, 2004).
Tanda dan gejala anemia menurut Varney, (2007) adalah:
1)      Letih, sering mengantuk, malaise.
2)      Pusing, lemah.
3)      Nyeri kepala.
4)      Luka pada lidah.
5)      Kulit pucat.
6)      Membran mekosa pucat (misalnya konjungtiva).
7)      Bantalan kuku pucat.
8)      Tidak ada nafsu makan, mual dan muntah.




  2.  Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin
           Pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh anemia pada kehamilan adalah dapat membahayakan saat hamil, bersalin, nifas dan bagi janin. Lebih jelasnya Manuaba (2007) telah mengklasifikasikannya, yaitu :
      a.   Pengaruh anemia pada kehamilan
            1)   Bahaya selama kehamilan 
                  Dapat terjadi abortus, persalinan prematuritas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis, mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, dan ketuban pecah dini.
                  2)         Bahaya saat persalinan
                  Gangguan his dan kekuatan mengejan, kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala uri dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri.
                        3)   Pada kala nifas
                        Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerpurium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, dan mudah terjadi infeksi mammae.

      b.  Bahaya terhadap janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk : abortus, terjadi kematian intrauterin,  persalinan prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai intelegensia rendah dan kematian.

1.      Penanganan Anemia
a.       Pencegahan
Untuk mencegah anemia pada ibu hamil menurut Depkes RI, (2004) yang  harus dilakukan adalah:
1)      Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dari daging, (terutama daging merah seperti sapi dan kambing), telur, ikan dan ayam, serta hati. Pada sayuran zat besi dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan lain. Perlu diperhatikan bahwa zat besi pada daging lebih mudah diserap oleh tubuh dari pada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Hal ini dikarenakan bentuk zat besi didalam sayuran adalah dalam bentuk non heme, juga karena adanya pitat dan pektin, sehingga diperlukan zat pemicu seperti vitamin C untuk membantu mempermudah penyerapan didalam usus.
2)      Berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan, karena kombinasi tertentu dapat mempengaruhi proses penyerapan zat besi oleh tubuh. Misalnya minum teh atau kopi bersamaan dengan makan akan mempesulit penyerapan zat besi, untuk itu tablet zat besi sebaiknya diminum tidak bersamaan waktunya dengan minum susu, teh, kopi, atau antasida.
3)      Mengkonsumsi tablet besi, pada wanita hamil dan menyusui disarankan 18mg suplemen zat besi perhari.
b.       Pengobatan
           Pengobatan efektif anemia pada ibu hamil dilakukan dengan menghilangkan penyebabnya atau memperbaiki kelainan primernya. Suplemen besi, asam folat, dan vitamin B12 bisa diberikan pada penderita anemia akibat pendarahan dan defisiensi besi. Hasil penelitian Sood, S K membuktikan bahwa wanita hamil yang mendapat pil besi ditambah dengan asm folat dan vitamin B12 kadar Hb nya naik lebih tinggi dari pada wanita hamil yang mendapatkan pil besi saja.
           Seorang wanita hamil memerlukan 18-21 mg zat besi per hari. Wanita dengan anemia kekurangan zat besi harus diberikan 60-120 mg zat besi per hari.
c.       Untuk meningkatkan penyerapan zat besi menurut Varney, (2007) adalah :
1)        Minumlah zat besi  diantara waktu makan atau 30 menit sebelum makan.
2)      Hindari mengkonsumsi kalsium bersama zat besi (susu, antasida, makanan tambahan prenatal).
3)      Minumlah vitamin C (jus jeruk, tambahan vitamin C).
4)      Masak makanan dalam jumlah air minimal supaya waktu memasak sesingkat mungkin.
5)      Makanlah daging, unggas, dan ikan. Zat besi yang terkandung dalam bahan makanan ini lebih mudah diserap dan digunakan dibanding zat besi dalam bahan makanan lain.
6)      Makanlah berbagai jenis makanan.
      Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr% / bulan (Saifuddin, 2006).



C.                PERSALINAN
1.      Definisi Persalinan
           Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18-24 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin (Sumarah, 2009).
a.                   Etiologi Persalinan
           Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang komplek antara lain ditemukan faktor homoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh prostaglandin, pengaruh tekanan syaraf dan nutrisi (Wiknjosastro, 2001).
1)                Teori Penurunan Hormonal
Saat sampai dua minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogin dan progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
2)                Teori Plasenta Menjadi Tua
Yang akan menyebabkan turunya kadar estrogen dan progesteron sehingga menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.

3)                Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta.
4)                Teori Iritasi Mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
5)                Induksi Partus (Induktion of labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan : rangsang laminaria, amniotomi, dan oksitosin drip.
Menurut Sumarah (2009)
6)    Teori Prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan.
             7)  Teori Hipotalamus-Pituitari dan Glandula Suprarenalis
Teori ini menunjukan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus.
                  8)   Teori Berkurangnya Nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hipokrates untuk pertama kalinya. Bila nutris pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.


2.      Tanda dan Gejala Persalinan
1)            Pada permulaan persalinan (Preparatory stoge of labor) yang terjadi pada beberapa minggu sebelum terjadinya persalinan.Dapat terjadi tanda-tanda sebagai berikut :
a).    Lightening atau setting atau doppler, yaitu kepalaturun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.
b).    Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c).    Perasaan sering kencing (polikisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d).   Perasaan sakit diperut dan dipinggang karena kontraksi ringan otot rahim dan tertekannya fleksus frankenhauser yang terletak pada sekitar serviks (tanda persalinan false-false labour pains).
e).    Serviks menjadi lembek, mulai mendatar karena terdapat kontraksi otot rahim.
f).     Terjadi pengeluaran lendir, dimana lendir penutup serviks dilepaskan dan biasa bercampur darah (bloody show).
2)      Tanda-tanda kala I sebagai berikut :
a).          Kekuatan dan rasa sakit oleh adanya his datang lebih kuat , sering dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.
b).          Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
c).          Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d).         Pada pemeriksaan dalam di jumpai perubahan serviks: pelunakannya, pendataran dan terjadinya pembukaan serviks.
3.      Faktor-faktor yang penting dalam persalinan
Faktor-faktor yang penting dalam persalinan menurut Manuaba (2007) yaitu sebagai berikut :
1)            Power (kekuatan mendorong janin keluar) terdiri dari :
a).    His (kontraksi uterus) merupakan kontraksi dan relaksasi otot uterus yang bergerak dari fundus ke korpus sampai dengan ke serviks secara tidak sadar.
b).  Kontraksi otot dinding rahim.
c).    Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan.
2)            Passanger meliputi
a).                                                                                      a). Janin
b).    Plasenta
3)            Pasaage (jalan lahir) terdiri dari :
a).     Jalan lahir keras yaitu tulang pinggul (os coxae, os sacrum dan os coccygis).
b).    Jalan lahir lunak : yang berperan dalam persalinan adalah segmen bawah rahim, serviks uteri dan vagina, juga otot-otot jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat urogenital.
4)            Psikis Wanita (ibu)
Penerimaan ibu atas kehamilannya (dikehendaki atau tidak).
a).    Penerimaan ibu terhadap jalananya perawatan ANC dan petunjuk persiapan dalam menghadapi persalinan.
b).    Kemampuan untuk kerja sama dengan penolong persalinan.
c).    Adaptasi ibu terhadap rasa nyeri persalinan.
5)            Penolong Persalinan
Meliputi pengalamannya dalam memimpin persalinan, kesabaran dang pengertiannya dalam menghadapi pasien terutama terhadap primipara.

4.      Perubahan Fisik Dalam Persalinan
Perubahan yang terjadi pada setiap kala persalinan secara fisik dan psikis, yaitu :
a.             Kala I (kala pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir darah, karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement) kala dimualai dari pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm) lamanya kala I untuk primigrafida berlangsung 12 jam, sedangkan pada multigravida sekitar       + 8 jam.
Kala I pembukaan di bagi menjadi fase :
1).          Fase laten : pembukaan serfiks sampai ukuran 3 cm selama 8 jam
2).          Fase aktif :berlangsung +6 jam, dibagi menjadi 3 sub fase :
a)        Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
b)        Pembukaan dilatasi maksimal selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
c)        Periode deselerasi berlangsung lambat, selama 2 jam, pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap (Wiknjosastro, 2002).
b.                  Kala II (kala pengeluaran janin)
Pada kala ini histerkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali kepala janin telah masuk keruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot dasar panggul yang menimbulkan rasa ingin mengedan,karena tekanan pada rektrum, ibu seperti mau buang air besar, dengan tanda anus membuka, perineum meregang. Dengan kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi : kepala membuka pintu, dahi, hidung, mulut dan muka dan seluruhnya, diikuti dengan putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala dengan punggung. Setelah itu sisa air ketuban. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit, dan multigravida 30 menit (Manuaba, 2007). 
c.                   Kala III (kala pengeluaran uri)
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah   (Wiknjosastro, 2006).
Waktu yang paling kritis untuk mencegah pendarahan postpartum adalah ketika plasenta lahir dan segera setelah itu. Ketika plasenta atau atau selaputnya terlepas tetapi tidak keluar, maka pendarahan terjadi dibelakang plasenta sehingga uterus tidak dapat sepenuhnya berkontraksi karena plasenta masih di dalam. Kontraksi pada otot uterus merupakan mekanisme fisiologi yang menghentikan pendarahan. Begitu plasenta lepas, jika ibu tidak dapat melahirkan sendiri atau petugas tidak dapat menolong mengeluarkan plasenta mungkin salah diagnosis sebagai retensi plasenta. Seringkali plasenta terperangkap dibawah servik dan hanya diperlukan sedikit dorongan untuk mengeluarkannya (Saiffudin, 2006).
Manajeman aktif kala III persalinan mempercepat kelahiran plasenta dan dapat mencegah atau mengurangi pendarahan postpartum. Manajeman aktif kala III terdiri dari :
1)            Memberi oksitosin 10 unit IM, dapat merangsang uterus berkontraksi juga mempercepat pelepasan plasenta . Oksitosin 10 unit IM dapat diulangi setelah 15 menit jika plasenta masih belum lahir jika oksitosin tidak tersedia, rangsang putting payudara ibu atau berikan ASI pada bayi untuk menghasilkan oksitosin alamiah.
2)            Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT) yang dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Hal ini dapat diulangi sampai palsenta terlepas.
3)            Massage fundus segera setelah plasenta dan selaputnya dilahirkan agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah pendarahan postpartum (Saiffudin, 2006).
d.            Kala IV
         Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu, teruama kematian kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya pendarahan postpartum. Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian, disebabkan karena perdarahan. Selama kala IV,  petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak setabil maka harus dipantau lebih sering (Saiffudin, 2006).

5.      Pemantauan Persalinan Dengan Menggunakan Partograf
a.       Definisi
Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan untuk membantu keadaan ibu dan janin (Depkes, 2004).
b.      Tujuan Penggunaan Partograf 
1).    Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2).    Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.
3).    Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir (Depkes, 2008).
c.       Landasan
Partograf WHO telah dirancang oleh suatu kelompok kerja informal yang meneliti hampir semua karya yang dipublikasikan tentang Partograf dan desainnya yang berlandaskan prinsip-prinsip :
1).    Fase aktif dimulai dari pembukaan 4 cm.
2).    Fase laten persalinan harus berlangsung tidak lebih dari 8 jam.
3).    Fase aktif , kecepatan pembukaan tidak boleh lebih lambat dari 1cm / jam.
4).    Tenggang waktu 4 jam antara melambatnya persalinan dan diambilnya tindakan tidak akan membahayakan janin atau ibunya untuk menghindari dari suatu tindakan yang tidak perlu.
5).    Periksa dalam tidak boleh dilakukan terlalu sering dalam suatu praktek kedokteran yang baik direkomendasikan setiap 4 jam.
6).    Sebaiknya memakai partograf yang sudah ada garis waspada dan garis tindakan.
d.      Komponen-komponen
1).    Kemajuan persalinan
a).          Pembukaan serviks
(1). Fase laten dari pembukaan 0-3 cm diikuti dengan penipisan dari surveks (tidak lebik dari 8 jam).
(2). Fase aktif dari pembukaan 4–10 cm dengan kecepatan sekurang-kurangnya 1 cm 1 jam.
(3). Pada persalinan yang berlangsung normal, pembukaan tidak boleh berada di kanan garis waspada.
(4). Dinilai setiap empat jam dan diberi tanda (x).
b).          Turun kepala janin
(1)         Pemeriksaan turun kepala janin membantu menentukan kemajuan persalinan.
(2)         Turun kepala janin diperiksa dari perut ibu dalam persalinan yang masih terasa diatas sympisis pubis.
(3)         Pemeriksaan turun kepala janin dilakukan dengan periksa dalam dan catat dengan tanda (O) pada posisi 0/5 sinsiput (s) atau paruh kepala atas berada di bawah sympisis  pubis.
c).          His
(1)         His diamati menurut frekuensi, lamanya, kekuatan dan relaksasi.
(2)         Dicatat his berada kali dalam 10 menit dan dicatat setisp setengah jam.
(3)         Ada tiga cara mengarsir HIS
                                   < 20 detik (berupa titik-titik).
                                   20 – 30 detik (berupa garis miring / arsiran).
                                 > 40 (dihitamkan penuh).
(4)   Catatan his dibuat pada waktu yang tepat pada partograf.
2).          Keadaan janin
a).    Denyut jantung
(1). Catat setiap 30 menit sekali dan satu kotak menggambarkan 30 menit.
(2). Dengarkan denyut jantung janin segera setelah puncak satu his dilalui dengan ibu dengan pusisi miring kalau mungkin.
(3). Denyut jantung janin normal berkisar antara 120-160 x/menit.
(4). Dengarkan denyut jantung janin selama I menit.
b).    Selaput dan air ketuban
Catat warna ketuban setiap melakukan periksa dalam.
U      : selaput utuh.
J        : Selaput pecah air ketuban jernih.
M      : Air ketuban bercampur mekonium.
D      : Air keruban bernoda darah.
K      : Tidak ada cairan air ketuban / kering.
c).    Maulase tulang kepala janin
Merupakan petunjuk penting adanya disporposi kepala janin dan panggul ibu. Catat setiap melakukan periksa dalam.
0              :  Sutura terpisah.
1              : Sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat  bersentuhan.
2              :   Sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki.
3              :   Sutura tumpang tindih tetapi tidak dapat diperbaiki.
3).          Keadaan Ibu
a).    Nadi, tekanan darah dan suhu
(1).       Nadi : dicatat setiap 30-60 menit dan ditandai dengan sebuah titik besar (·).
(2).       Tekanan darah : dicatat setiap 4 jam dan ditandai dengan anak panah.
(3).       Suhu dicatat setiap 2 jam.
b).    Urin : volume, protein dan aseton
(1).       Catat setiap ibu berkemih.
(2).       Adakah protein atau asetondalam urin.
c).    Obat yang diberikan
d).   Pemberian oxsitosin
Jika memakai oxsitosin, catatlah banyaknya oxsitosin pervolume cairan infus dan dalam per menit (Depkes, 2004).

5.                  Asuhan Kebidanan Pada Persalinan
                  Lima benang merah pada persalinan menurut
1)    Membuat keputusan klinik
Adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk merencanakan asuhan ibu dan bayi baru lahir.
2)    Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
Adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
3)      Pencegahan infeksi
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen lain dalam setiap aspek asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Upaya untuk menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan cara pengobatannya, seperti misalnya Hepatitis dan HIV/AIDS.
4)    Pencatatan (Dokumentasi)
Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat  keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
5)    Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu kefasilitas kesehatan rujukan atau yang dimiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa ibu dan bayi. Sangatlah sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi, sehingga kesiapan merujuk ibu dan bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu mendapat pelayanan di tempat rujukan (Depkes , 2008)
Hal-hal yang harus disiapkan dalam melakukan rujukan sering kali disingkat dengan BASOKUDA menurut Sumarah (2009) adalah :
B : Bidan
Selama tindakan rujukan dilakukan, ibu dan atau bayi lahir di dampingi oleh penolong persalingan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawat daruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
A : Alat
Bahan-bahan dan perlengkapan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dll) harus di bawa bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan  dan bahan-bahan untuk tersebut mungkin saja diperlukan jika ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.
K : Keluarga
Ibu dan keluarga haus diberitahu mengenai kondisi terakhir baik mengenai kondisi ibu dan atau bayinya serta mengapa ibu dan bayi perlu di rujuk. Jelaska pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.
            S : Surat
            Buat surat pengantar ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan indentifikasi mengenai ibu dan atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan, dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang telah diterima ibu dan atau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.
O : Obat
Bawa obat-obatan esenssial pada saat mengatar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan pada saat di perjalanan.
K : Kendaraan
Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam keadaan  kondisi yang cukup nyaman. Pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.
U : Uang
            Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan.
DA : Doa, Darah
            Ingatkan pada ibu dan keluarga untuk selalu memanjatkan doa sesuai dengan agama dan kepercayaannya untuk selalu berserah diri dan memohon pertolongan serta perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa selama proses perawatan dan rujukan agar di beri kemudahan dalam memperoleh fasilitas pelayanan dan di beri keselamatan dan kesehatan baik bagi ibu, bayi maupun semua anggota keluarga. Ajak keluarga / tetangga yang mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien bila kasusnya memerlukan transfusi darah.
Pertolongan persalinan menggunakan metode Asuhan Persalinan Normal menurut Depkes RI (2008) :
I.    Mengenali gejala dan tanda kala dua
2)      Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua.
a)Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran.
b)      Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina.
c)Perineum tampak menonjol.
d)     Vulva dan sfingter ani membuka.
II.  Menyiapkan pertolongan persalinan
3)      Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk resusitasi : tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat, 3 haduk/kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm di atas tubuh bayi.
a)      Menggelar kain diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi
b)      Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai didalam partus set
4)      Pakai celemek plastik.
5)      Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
6)      Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk periksa dalam.
7)      Masukkan oksitosin kedalam tabung suntik ( gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik).
       III.            Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik
8)      Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air DTT.
a)Jika introitus vagina, perinium atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang.
b)      Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.
c)Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5% : langkah # 9 )
9)      Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.
10)  Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
11)        Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi / saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal ( 120 – 160x/menit ).
a)      Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
b)      Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
IV.                              Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses bimbingan meneran
12)  Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
a)Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin ( ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif ).
b)      Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar.
13)  Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).
14)  Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran :
a)      Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif.
b)      Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai.
c)      Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama).
d)     Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
e)      Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.
f)       Berikan cukup asupan cairan peroral (minum).
g)      Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
h)      Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1jam) meneran (multigravida).
15)  Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
V.                                          Persiapan pertolongan kelahiran bayi
16)     Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
17)     Letakkan kain  bersih yang dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
18)     Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
19)     Pakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
VI.      Persiapan pertolongan kelahiran bayi
Lahirnya kepala
20)  Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernapas cepat dan dangkal.
21)  Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi.
a)      Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
b)      Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong diantara dua klem tersebut.
22)  Tunggu  kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
Lahirnya bahu                                                                                        
23)  Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparietal. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
Lahirnya Badan dan Tungkai
24)  Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk kepala dan bahu.gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.
25)  Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut kepunggung, bokong, tungkai, dan kaki.pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).
VII.            Penanganan bayi baru lahir
26)        Lakukan penilaian (selintas)
a)      Apakah bayi cukup bulan ?
b)      Apakah air ketuban jernih, tidak tercampur mekonium ?
c)      Apakah bayi menangis kuat dan / bernapas tanpa kesulitan ?
d)     Apakah bayi bergerak dengan aktif  ?
bila salah satu jawaban adalah ”TIDAK,” lanjut ke langkah resusitasi pada asfiksia bayi baru lahir (melihat penuntun berikutnya) bila semua jawaban ”YA”, lanjut ke-26.
27)  Keringkan tubuh bayi
Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk / kain yang kering. Biarkan bayi diatas perut ibu.
28)  Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal).
29)  Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik.
30)  Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit IM (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin).
31)  Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat kearah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
32)  Pemotongan dan pengikatan tali pusat
a)      Dengan satu tangan,pegang tali pusat yang telah di jepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
b)      Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
c)      Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan.
33)  Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada / perut ibu.usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
34)  Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi.
VIII.      Penatalaksanaan aktif persalinan kala III          
35)  Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
36)  Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, ditepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
37)  Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri) jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas.
Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.
Mengeluarkan plasenta
38)  Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
a)      Jika tali pusat bertambah panjang , pindahkan klem hingga 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
b)      Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:
(1).       Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM.
(2).       Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.
(3).       Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
(4).       Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya.
(5).       Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi. lahir atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual.
39)  Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.
Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
Rangsangan taktil (masase) Uterus
40)  Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus, letakkan telapak tangan difundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras).
Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase.
IX.      Menilai perdarahan
41)  Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta kedalam kantung plastic atau tempat khusus.
42)  Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan, bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.
X.      Melakukan prosedur pasca persalinan
43)  Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
44)  Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
a)      Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit.bayi cukup menyusu dari satu payudara.
b)      Biarkan bayi berada didada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.
45)  Setelah 1 jam, lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir,beri antibiotika salep mata pencegahan, dan vitamin K1 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral.
46)  Setelah satu jam pemberian Vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolaterral.
Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan. Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.

Evaluasi
47)  Lanjutkan pemantauan kotnraksi dan mencegah perdarahan pervaginam
a)      2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
b)      Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.
c)      Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan.
d)     Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.
48)  Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
49)  Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
50)  Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit pertama selama jam kedua pascapersalinan.
a)      Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan.
b)      Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
51)  Periksa kembali bayi dan pantau setiap 15 menit untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5 C).
a)      Jika bayi sulit bernafas, merintih, atau retraksi, diresusitasi dan segera merujuk ke rumah sakit.
b)      Jika bayi napas terlalu cepat, segera disujuk.
c)      Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Kembalikan bayi kulit ke kulit dengan ibunya dan selimuti ibu dan bayi dengan satu selimut.
Kebersihan dan keamanan
52)  Tempatkan semua paralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk  dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
53)  Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ketempat sampah yang sesuai.
54)  Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan ketuban, lender dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
55)  Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkan
56)  Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5 %.
57)  Celupkan sarung tangan kotor kedalam laritan klorin 0,5%, balikkan bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
58)  Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
Dokumentasi
59)  Lengkapi Patograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala IV.

D.     BAYI BARU LAHIR
1.      Definisi Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin (Wiknjosastro, 2001).

2.      Perubahan Fisik pada Bayi Baru Lahir
a.                   Penanganan Bayi Baru Lahir
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam penanganan bayi bari lahir
yaitu :
1)      Mengeringkan bayi dan menghangatkan bayi (pencegahan terjadi hipotermi).
2)      Memotang dan mengikat tali pusat.
3)      Mengukur dan menimbang berat badan bayi.
4)      Antropometri dan memeriksa anus, genitalia eksterna dan jenis kelamin.
5)      Membersihkan badan bayi.
6)      Menetesi atau mengolesi mata bayi dengan penisilin salep.
7)      Memberi identitas bayi.
8)      Memberikan bayi pada ibu agar segera di teteki.
b.                   Penilaian Bayi Baru Lahir
Keadaan umum bayi dinilai segera setelah 30 menit pertama untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak, yang dinilai adalah menangis kuat, warna kulit kemerahan, refleks positif.
c.                   Yang Perlu Diperhatikan Pada Bayi Baru Lahir
Menurut Wiknjosastro (2001) yang perlu diperhatikan pada bayi baru lahir meliputi :
1)      Kesadaran dan reaksi terhadap reaksi sekeliling.
2)      Keaktifan bayi normal melakukan gerakan tangan dan kaki yang simetris saat bangun.
3)      Simetris : apakah secara keseluruhan badan seimbang.
4)      Kepala : apakah simetris, ada atau tidak ada tumor, ukuran lingkar kepala.
5)      Muka : wajah tampak ekspresi.
6)      Mata : apakah ada perdarahan berupa bercak merah yang menghilang dalam 6 minggu.
7)      Mulut : hipersalivasi tidak terdapat pada bayi normal
8)      Leher : apa ada cedera akibat persalinan
9)      Abdomen : tidak ada asites ukuran lingkar perut.
10)  Punggung : ada atau tidak ada benjolan atau tumor.
11)  Ekstremitas : perlu diperhatikan bentuk, gerak dan fraktur.
12)  Kulit dan Kuku : dalam keadaan normal kulit berwarna kemerahan.
13)  Kelancaran menghisap dan pencernaan : harus diperhatikan.
14)  Tinja dan Kemih : diharapkan keluar dalam 24 jam pertama.
15)  Refleks : rooting refleks, refleks hisap, refleks moro, refleks mengeluarkan lidah.
d.                  Yang Perlu di Pantau Pada Bayi Baru Lahir
Menurut Saifuddin (2006)  yang perlu dipantau pada bayi baru lahir yaitu :
1)      Suhu badan dan lingkungan
2)      Tanda-tanda vital
3)      Berat badan
4)      Mandi dan perawatan kulit
5)      Pakaian
6)      Perawatan tali pusat

3.      Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir
Menurut Saifuddin (2006)  penatalaksanaan awal bayi  baru lahir meliputi :
a.                   Pencegahan infeksi
                  Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, maka saat melakukan penanganan bayi baru lahir diusahakan cuci tangan secara seksama, pakai sarung tangan bersih saat menangani bayi yang belum dimandikan, pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut yang akan digunakan bayi bersih.
b.                   Penilaian awal
Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (0 – 30 detik).
2)      Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan.
3)      Apakah bayi bergerak aktif atau dalam keadaan lemas.
4)      Apakah warna kulit bayi merah muda, pucat atau biru.
c.                   Pencegahan kehilangan panas
Pada bayi dalam keadaan basah atau tidak di selimuti mungkin akan mengalami hipotermi apalagi pada bayi premature, BBLR, maka untuk menghindari kehilangan panas pada bayi yaitu :
1)      Keringkan bayi dengan seksama.
2)      Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.
3)      Selimuti bagian kepala bayi.
4)      Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir.
5)      Tempatkan bayi dilingkungan hangat.
d.                  Rangsangan taktil
Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Hal ini biasanya untuk merangsang terjadinya pernafasan spontan.
e.                   Merawat tali pusat
2)      Jangan membungkus pusar atau perut bayi atau mengoleskan bahan atau ramuan apapun juga kepuntung tali pusat dan menasehati keluarga agar tidak melakukannya.
3)      Beri nasehat ke ibu : lipat popok dibawah puntung tali pusat, jika kotor cuci secara lembut dengan air matang dan serta keringkan, jelaskan pada ibu jika pusar menjadi merah atau mengeluarkan nanah atau darah segera mencari bantuan keperawatan.
4)      Anjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.


E.     NIFAS
1.       Definisi Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2006).
Masa puerpurium atau masa nifas dimulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu tiga bulan (Wiknjosastro, 2007).
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2009)
Nifas terbagi menjadi tiga periode yaitu :
a.       Puerpurium dini yaitu kepulihan dimana ibu dibolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja kembali. waktunya sekitar 40 hari setelah melahirkan.
b.      Puerporium intermedial adalah kepulihan menyeluruh alat –alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c.       Remote Puerporium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu bulanan atau tahunan (Wiknjosastro, 2007).

2.                                                                                    Perubahan fisik Pada nifas
Menurut Wiknjosastro (2007) perubahan fisik pada nifas meliputi sebagai berikut :
a.       Involusi uterus
Uterus secara beangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Involusi
Tinggi fundus uteri
Berat uterus
Bayi lahir
Sepusat
1000
Plasenta lahir
2 jari bawah pusat
750
1 minggu
2 minggu
Pertengahan pusat simphisis
Tidak teraba diatas simphisis
500
350
6 minggu
Bertambah kecil
50
8 minggu
Sebesar normal
30

b.      Bekas inplantasi uri : Placental  bed mengecil karena konteraksi, menonjol ke cavum uteri dengan diameter 7.5 cm. Sesudah dua minggu menjadi 3.5 cm dan pada minggu keenam 2.4 cm dan akhirnya pulih.
c.       Luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.
d.      Rasa sakit yang disebut After pains (meriang atau mules-mules) adalah disebabkan kontraksi rahim. Biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Hal ini diberikan pengertian pada ibu tersebut dan kalau terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obatan anti sakit dan obat anti mules.
e.       Lochia : adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nivas.
1)      Lochia rubra (cruenta) berisi darah segar dan selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lango dan mekonium selama dua hari selama post partum.
2)      Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 post partum.
3)      Lochia serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi. hari 7-14 post partum.
4)      Lochia alba : cairan putih. Setelah dua minggu.
5)      Lochia porolenta :  terjadi infeksi. Keluar cairan nanah dan berbau busuk.
6)      Luchiastatis : lochia tidak lancar keluarnya.
f.       Servik dan vagina setelah partus bentuk serviks agak mengga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak kadang-kadang terdapat perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah dua jam dapat melalui 2-3 jari dan setelah 7 hari terbuka 1 jari. Vagina yang sangat direnggang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal. Pada minggu ketiga post partum rugae mulai nampak.
g.      Ligamen-ligamen : ligamen fascia, dan diagfragma pelpis yang meregang pada waktu partus, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur mengecil dan pulih kembali. Tidak jarang uterus jatuh kebelakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Apalagi suatu kebiasaan wanita indonesia setelah melahirkan “berkhusuk” atau “berurut” dimana suatu berkhusuk  tekanan intra abdomen bertambah tinggi. oleh karena setelah melahirkan ligamenta, fascia dan jaringan penunjang menjadi kendor, ditambah pula diurut atau pijat, maka tidak heran wanita akan mengeluh “kandungannya turun” atau “terbalik” untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan dan gimnastik pasca persalinan.
h.      Dinding perut dan peritonium : setelah persalinan, dinding perut longgar karena direnggang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu. Kadang-kadang pada wanita pada nifas terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominalis sehingga sebagian dari dinding perut digaris tengah hanya terdiri dari peritonium, fascia tipis dan kulit. Daerah yang hanya terdiri dari sebagian dinding perut ini menonjol keluar bila tubuh wanita setelah melahirkan  dalam posisi berdiri atau mengejan.
i.        Saluran kandung kemih : saluran kandung kemih dalam masa nifas kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kemih penuh atau sesudah berkemih masih tinggal urine residual. Sisa urine ini dan trauma pada dinding kandung kemih waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi apalagi ibu terpasang kateterisasi. Dilatasi ureter dan pyleum, normal kembali dalam waktu 2 minggu.
j.        Payudara (laktasi) : tonosposterior hipofisis mengeluarkan oksitosin yang merangsang pengeluaran air susu. Pengeluaran air susu adalah refleks yang ditimbulkan oleh rangsang pengisapan putting susu oleh bayi. Rangsangan ini menuju ke hipofisis dan menghasilkan oksitosin yang menyebabkan payudara mengeluarkan air susunya. Pada kira-kira hari ke 2-3 post partum payudara menjadi lebih besar, keras dan nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan bila aireola di pijat maka keluarlah cairan cairan putih dari puting susu.

3.                                                                                    Asuhan Kebidanan Pada Nifas
a.       Tujuan Asuhan Nifas
Menurut Saifuddin (2006)  tujuan asuhan nifas meliputi :
1)      Menjaga kebersihan ibu dan bayinya baik fisik dan Psikologi.
2)      Melaksanakan skrining yang koperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi baik ibu maupun bayinya.
3)      Memberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusuhi, pemberian imunisasi pada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
4)      Memberikan pelayanan keluarga berencana.
b.      Program dan Kebijaksanaan Teknis
Program dan kebijakan teknis menurut Wiknjosastro (2007) paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Kunjungan masa nifas :
1)      6-8 jam setelah persalinan
Tujuannya adalah :
a)      Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b)      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk jika perdarahan berlanjut.
c)      Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d)     Pemberian ASI awal.
e)      Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f)       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
g)      Jika petugas menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk dua jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
2)      6 hari setelah persalinan
Tujuanya adalah :
a)      Memastikan involosi uterus berjalan normal.
b)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
c)      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
d)     Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan  tanda-tanda penyulit.
e)      Memberikan konseling pada ibu mengani asuhan pada bayi, merawat tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3)      2 Minggu setelah persalinan
Tujuanya sama dengan kunjungan 6 hari setelah persalinan.
4)      6 minggu setelah persalinan
Tujuannya adalah :
a)      Menanyakan penyulit yang ibu atau bayi alami.
b)      Memberikan konseling untuk KB dan diharapkan ibu sepakat untuk menjadi aseptor KB.
c.       Periode Post Partum
Periode post partum menurut Manuaba (2007) ada tiga tahap :
1)      Periode takingin
Masa 1-2 hari post partum dimana ibu masih mengulang-ulang pengalamannya saat melahirkan dan pada masa ini sangat dibutuhkan istirahat yang cukup serta nutrisi yang adikuat.
2)      Periode Takling Hold
Masa 2-4 hari post partum, dimana ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuh dan sangat sensitif serta merasa tidak mahir.
3)      Periode Letting go
                  Pada periode ini ibu telah berada dirumah dan harus beradaptasi pada kebutuhan bayinya. Paa masa ini sangat rentan terjadi depresi post partum.
d.      Perawatan Pasca Persalinan
Perawatan pasca persalinan menurut Manuaba (2007) meliputi :
1)      Mobilisasi : perawatan puepurium yang diperlukan adalah mobilisasi dini (Early Mobilization) perawatan mobilisasi dini ini mempunyai keuntungan :
a)      Melancarkan pengeluaran lochia, mengurangi infeksi puerpurium.
b)      Mempercepat involosi alat kandungan.
c)      Melaksanan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
d)     Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
2)      Rawat gabung : agar ibu dapat segera memberikan ASI memperhatikan bayinya sehingga kelancaran pengeluaran ASI terjamin.
3)      Pemeriksaan umun : Meliputi kesadaran dan keluhan yang terjadi saat ini.
4)      Pemeriksaan khusus :
a)      Fisik                            : TTV.
b)      Fundus uteri          : Tinggi fondus, kontraksi uterus.
c)      Payudara                     : Putting susu, pembengkakan atau  Pengeluaran ASI.
d)     Pengeluaran           : Lochia rubra, sanguinolenta.
e)      Perdarahan                  : Luka jahitan.
f)       Perineum                     : Utuh.
e.       Nasehat Pada Saat Memulangkan Ibu Pada Masa Nifas Normal
Nasehat pada saat memulangkan Ibu pada masa nifas normal menurut Wiknjosastro (2007) diantaranya yaitu :
1)      Kebersihan diri :
a)      Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b)      Mengajari ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu dari depan kebelakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehati ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
c)      Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2 kali sehari.
d)     Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e)      Jika ibu mempunyai luka episotomi atau laserasi sarankan pada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
2)      Istirahat :
a)      Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
b)      Sarankan untuk kembali kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
c)      Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
(1)    Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
(2)     Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
(3)     Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan  untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
3)      Latihan
a)      Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa akan lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada perut dan punggung.
b)      Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti :
(1)     Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu kedada, tahan 1 hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
(2)     Untuk memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel).
c)      Berdiri dengan tungkai dirapatkan, kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendorkan dan ulangi sebanyak 5 kali.
4)      Gizi
Ibu menyusui harus :
a)      Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
b)      Makan dengan diit berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
c)      Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
d)     Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan.
e)      Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A pada bayinya melalui ASInya.
5)      Perawatan payudara
a)      Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b)      Menggunakan BH yang menyokong payudara.
c)      Apabila putting susu lecet oleskan kolestrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dari putting susu yang tidak lecet.
d)     Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
e)      Untuk menghilangkan nyeri dapat diminum parasetamol 1 tablet setiap 4 - 6 jam.
f)       Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
(1)    Pengompresan payudara dengan mengunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
(2)    Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting.
(3)    Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak.
(4)    Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengan tangan.
(5)    Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.Payudara keringkan.
6)      Hubungan Perkawinan / rumah tangga
a)      Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
b)      Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.
7)      Keluarga berencana
a)      Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya dua tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya namun petugas kesehatan dapat membantu keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
b)      Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, mengunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu sedah haid lagi.
c)      Sebelum menggunakan metode KB hal-hal yang harus dijelaskan pada ibu :
(1)     Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya.
(2)    Kelebihan dan keuntungannya .
(3)    Kekurangannya.
(4)    Efek samping.
(5)    Bagaimana menggunakan metoda itu.
(6)     Kapan metoda itu dapat digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui.
d)     Jika seorang ibu / pasangan telah memilih metoda KB tertentu, ada baiknya bertemu dengannya lagi dalam dua minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu atau pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
f.                    Adaptasi Psikologi Masa Nifas
1)      Perubahan emosional setelah kehamilan dan persalinan
a)      Perubahan gaya hidup.
b)      Tekanan jiwa setelah melahirkan.
c)      Apakah dunia meninggalkan daku.
d)     Cemburu dan kemarahan.
e)      Rasa puas.
2)      Sesudah 4 pekan pertama
Empat minggu yang pertama merupakan waktu untuk menyesuaikan diri, sekarang sudah tiba saatnya untuk mapan dalam kehidupan rumah tangga, membuat keseimbangan antara kebutuhan sebagai orang dewasa dan kebutuhan anak yang sedang tumbuh.
3)      Post Partum Blues
Cukup sering ibu menunjukan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran. Depresi ini sering disebut biru post partum. Penyebab post partum blues ini adalah :
a)      Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.
b)      Rasa sakit masa nifas awal.
c)      Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan dan post partum pada kebanyakan rumah sakit.
d)     Kecemasan pada kemampuannya merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit.
e)      Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suaminya.






F.                 PENDOKUMENTASIAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
2.      Manajemen Kebidanan 7 Langkah Varney
Metode kerja profesi dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah merupakan alur kerja dan pemikiran serta langkah-langkah dalam suatu urutan yang logis yang menguntungkan baik bagi pasien maupun bidan. Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997).
a)      Langkah-langkah manajemen kebidanan 7 langkah Varney :
1).    Melakukan pengkajian.
2).    Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interprestasi yang benar atas data tersebut.
3).    Mengantisipasi masalah atau mendiagnosa potensial berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah di identifikasi.
4).    Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter.
a).    Mandiri.
b).    Kolaborasi
c).    Rujuk
5).    Merencanakan atau melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara efisien dan aman.
6).    Mengevaluasi keefektifan dari asuhan.
Cara pengumpulan data dasar untuk mengevaluasi keadaan pasien dengan mengunakan 7 langkah Varney, sebagai berikut :
a)       Langkah I
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan.
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara :
(1)   Anamnesa
            Anamnesa adalah tanya jawab antar klien dan pemeriksa. Dari tanya jawab ini banyak keterangan yang diperoleh untuk menegakkan diagnosa kehamilan. Anamnesa terdiri dari biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, persalinan, dan nifas yang lalu, biopsiko spiritual, dan pengetahuan klien.
(2)    Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital.
Setelah diambil anamnesa maka dilakukan pemeriksaan ini yang meliputi keadaan umum, kesadaran, mengukur tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan atas.
(3)   Pemeriksaan khusus
(a).     Inspeksi
                  Pada pemeriksaan ini, petugas memperhatikan bagaiman cara klien berjalan dan berdiri. Selain itu pada saat klien berbaring diperiksa pula bagian-bagian luar klien dari atas sampai bawah yang dilakukan secara systematic.

(b).  Palpasi
                        Palpasi dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tangan. Dengan melakukan palpasi maka dapat ditentukan bagian-bagian yang terdapat didalam rahim, usia kehamilan, letak janin, didalam rahim, dan dapat pula menentukan apakah bagian terendah janin sudah masuk kedalam panggul atau belum. 
(c).  Auskultasi
                        Dilakukan pada klien yang memeriksakan kehamilannya. Untuk melakukan auskultasi digunakan stethoscope, laenec, dopler. Apabila menggunakan  laenec denyut jantung janin baru terdengar akan terdengar pada usia kehamilan 18-20 minggu.
(d).          Perkusi
                        Dilakukan untuk memeriksa apakah refleks patella positif atau negative. Bila refleks lutut negative perlu diperhatikan adanya avitaminose B1.
(4)      Pemeriksaan penunjang
            Pemeriksaan penunjang terdiri dari pemeriksaan USG dan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan hemoglobin, golongan darah, urine protein, urine reduksi.
b)                  Langkah II
                                                     Menginterprestasikan Data untuk mengidentifikasi diagnosa / masalah.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterprestasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tudak dapat diidentifikasi seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penangganan. Masalah sering berkaitan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan pengkajian.
c)      Langkah III
                               Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
            Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah di identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah atau masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam asuhan yang aman.
d)     Langkah IV
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan tindakan, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien.
Langkah ke IV mencerminkan kesinambungan dari proses penatlaksanaan kebidanan. Jadi penatalaksanaan bukan hanya kunjungan antenatal saja tetapi selama wanita tersebut dalam persalinan. Data baru mungin saja dikumpulkan dan dievaluasi, beberapa data mungkin mengidentifikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu dan anak misalnya pendarahan kala II.
e)       Langkah V
Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang di buat pada langkah-langkah sebelumnya.
      Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditemukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah di identifiksi atau antisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap depat dilengkapi.
f)       Langkah VI
Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman. Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh dan dilaksanakan secara efisien dan aman. Erencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien atau anggota tim kesehatannya lainya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya: memastikan langkah-langkah  tersebut benar-benar terlaksana).
g)      Langkah VII
   Mengevaluasi
Pada langkah 7 ini dilakukan evaluasi keaktifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah di identifikasikan didalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan sebagian belum efektif. Mengingat bahwa proses penatalaksanaan ini merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan maka perlu mengulang kenbali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui peƱatalaksanaan untuk mengidentifikasikan mengapa proses penatalaksanaan untuk tidak efektif serta melakukan penyesuian pada rencana asuhan tersebut.
3.      Manajemen  Kebidanan SOAP
Manajemen kebidanan SOAP menurut Salmah (2006) merupakan metode atau bentuk pendekatan yang digunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan, sehingga langkah-langkah dalam manajemen kebidanan merupakan alur piker bidan dalam pemecahan masalah dan mengambil keputusan klinis. Asuhan yang dilakukan harus dicatat secara benar, sederhana, jika jelas dan logis sebagai pendokumentasian.
Metode pendokumentasian yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah SOAP yang merupakan salah satu metode pendokumentasian yang ada. SOAP adalah singkatan dari :
S          : Subjek
Mengapa hasil pendokumentsian hasil pengumpulan data atau informasi klien klien atau keluarganya melalui  Anamnessa.
O         : Objektif
Menggambarkan pendokumentsian hasil pemeriksaan fisik kien, hasil lab, test diagnostic yang dirumuskan dalam data fokus  untuk mendukung assetment.
A         : Asessment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi.
Diagnosa Masalah.
Antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial.
P     : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan , tindakan dan evaluasi berdasarkan assessment.



















                  
H.     INISIASI MENYUSU  DINI (IMD)
1.    Definisi IMD
Inisiasi Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi  dibiarkan   mencari  puting  susu  ibunya sendiri (tidak disodorkan keputing susu)
(http://dinkes.kulonprogokab.go.id/?p=150).
Menurut Dr. Utami Roesli, SpA., IBCLC, FABM yang merupakan pelopor IMD, menekankan betapa pentingnya seorang ibu melakukan IMD
demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak serta menurunkan angka kematian bayi dan balita serta meningkatkan kecerdasan anak

                       2.      SOP  IMD Pada Partus Spontan
a)  Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu dikamar          bersalin.
b)  Dalam menolong ibu melahirkan disarankan untuk mengurangi / tidak    menggunakan obat kimiawi.
c)  Bayi lahir, segera dikeringkan secepatnya terutama kepala, kecuali          tangannya; tanpa menghilangkan vernix mulut dan hidung bayi            dibersihkan, tali pusat diikat.
d) Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, Bayi di ditengkurapkan di            dada-perut  ibu  dengan kulit bayi melekat pada kulit  ibu         dan mata         bayi setinggi puting susu. Keduanya diselimuti. Bayi dapat dipakaikan topi.
e)  Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi. Biarkan bayi        mencari puting sendiri.
f)  Ibu didukung dan dibantu mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
g)  Biarkan kulit  bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling   tidak satu jam; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, tetap   biarkan kulit ibu – bayi bersentuhan sampai setidaknya 1      jam.
h)  Bila dlm 1 jam menyusu awal belum terjadi, bantu ibu dengan    mendekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke           mulut bayi. Beri waktu kulit melekat pada kulit 30 menit atau 1 jam        lagi.
i)   Setelah setidaknya melekat kulit ibu dan kulit bayi setidaknya 1 jam       atau selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vit K.
j)   Rawat  gabung  bayi: Ibu – bayi dirawat  dalam satu kamar,      dalam jangkauan  ibu selama 24 jam.
k)  Berikan ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas             indikasi medis. Tidak diberi dot atau empeng
                          (hhtp://dinkes.kulonprogokab.go.id/?p=150).

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1.        Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil
Kunjungan ke-1 Tanggal 17 Oktober 2010
Ny. T berusia 31 tahun, suku Jawa, agama islam, pendidikan terakhir SD, pekerjaan ibu rumah tangga. Suami Tn. J umur 40 tahun, suku Jawa, agama islam pendidikan terakhir SLTP, pekerjaan pedagang, beralamat di Jl. pengarengan Rt 001 Rw 07. Pada Tanggal 17 oktober 2010 ibu datang ke BPS bidan Ajeng untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan ini merupakan kontak yang pertama dengan penulis, respon ibu cukup baik.
Anamnesa dilakukan pada pukul 10.30 WIB. Pada saat itu ibu mengatakan tidak ada keluhan. Riwayat kehamilan sekarang, hari pertama haid terakhir ibu tanggal 27 Januari 2010, haid sebelumnya tanggal 25 Desember  2009, lamanya 7 hari, banyaknya 3 kali ganti pembalut, siklus  28 hari, teratur. Konsistensi cair dan sedikit ada gumpalan. Tafsiran persalinan tangal 4 oktober 2010 Usia kehamilan ibu 36 minggu 3hari, ibu pernah melakukan test kehamilan dengan hasil positif, yaitu pada tanggal 13 febuari 2010. Pergerakan fetus dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 16 minggu, pergerakan fetus dalam 24 jam terakhir lebih dari 10 kali. Ibu tidak merasak keluhan seperti lelah, mual muntah lama,nyeri perut panas menggigil, sakit kepala berat, penglihatan kabur nyeri  /panas waktu BAK, gatal pada vulva vagina, pengeluaran cairan darah/pervaginam dan edema. Makan sehari-hari 3 kali sehari dengan nasi, tempe,ikan dan susu.
Pola eliminasi ibu buang air besar satu kali sehari,dan buang air kecil 5-6 kali sehari. Istirahat tidur siang kurang lebih satu jam,dan tidur malam delapan jam sehari.Pola seksualitas tidak ada keluhan, kegiatan ibu sehari-hari sebagai seorang ibu rumah tangga. Ibu mengatakan sudah mendapatkan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) sebanyak dua kali, yaitu TT1 dilakukan pada tanggal 1 Juni 2010 dan TT2 dilakukan pada tanggal 5 Juli 2010. Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun sebelumnya. Ibu mengatakan saat ini kehamilan anak kedua dan tidak pernah mengalami keguguran. Ibu mengatakan anak pertama lahir pada tahun 2004 oleh dukun di kampung dengan usia kehamilan cukup bulan, jenis persalinan spontan, penolong dukun, tidak ada penyulit kehamilan dan persalinan, anak berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 4000 gram panjang badan 51 cm, keadaan sehat.dan saat ini adalah kehamilan yang kedua.
Riwayat kesehatan, ibu tidak pernah menderita penyakit seperti jantung, tekanan darah tinggi, hepatitis, diabetes mellitus, anemia berat dan lain-lain. Perilaku kesehatan, ibu tidak pernah menggunakan alkohol, obat-obatan kecuali yang diberikan oleh dokter atau bidan. Ibu tidak mengkonsumsi jamu, merokok maupun makan sirih. Ibu mengganti pakaian dalam 2 sampai 3 kali sehari.
Riwayat sosial ibu mengatakan kehamilan ini direncanakan dan diinginkan. jenis kelamin yang diinginkan adalah perempuan. Status perkawinan sah, menikah satu kali lama pernikahan 8 tahun. Susunan keluarga yang tinggal serumah adalah ibu tinggal bersama  suami, anaknya.Ibu mengatakan tidak ada kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Riwayat kesehatan keluarga, ibu dan keluarga tidak mempunyai penyakit keturunan seperti asma, hipertensi, diabetes mellitus dan lain-lain.
Hasil pemeriksaan fisik ibu dengan hasil, keadaan umum baik, kesadaran Composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 100/80 mmHg, suhu 36,4o C, nadi 80 x/menit, pernafasan 22 x/menit, tinggi badan 165 cm, berat badan  sekarang 70 kg, berat badan sebelum hamil 61 kg. kenaikan berat badan selama hamil 9 kg.  Pada pemeriksaan sistemis bagian rambut bersih, tidak berketombe, tidak rontok, kelopak mata tidak edema, konjungtiva agak pucat, sklera tidak ikterik, mulut dan gigi bersih, tidak ada stomatitis dan tidak ada epulis,gigi bersih tidak ada caries dan lubang. Pada leher tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan getah bening. Pada jantung dan paru-paru tidak dilakukan pemeriksaan, mamae kanan dan kiri sama besar, puting susu kanan dan kiri  bersih dan menonjol, mamae kanan dan kiri simetris, pada aerola terjadi hiperpigmentasi dan terjadi pembesaran kelenjar mongomeri, tidak ada pengeluaran colostrum dan tidak ada rasa nyeri. Posisi tulang belakang lordosis fisiologis, tidak ada nyeri pinggang. Ekstremitas atas dan bawah  tidak ada edema, kekuatan sendi kuat, tidak ada kemerahan, tidak ada varises, reflek patella positif pada kaki kanan dan kiri. Pemeriksaan Khusus obstetric yaitu pada inspeksi abdomen terdapat linea nigra dan striae, tidak ada luka bekas operasi SC, bekas operasi appendix, konsistensi lunak, pembesaran lien atau liver tidak ada, pembesaran abdomen sesuai dengan usia kehamilan dan benjolan tidak ada. Dilakukan palpasi abdomen, Leopold I tinggi fundus uteri 32 cm, fundus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak  melenting. Leopold II kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin. Leopold II kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras, tidak melenting .Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen), penurunan 4/5 bagian. Tafsiran berat badan janin (32-13) x 155 = 2945 gram. palpasi supra pubik kandung kemih kosong. Letak fetus memanjang,presentasi kepala, pergerakan aktif, denyut jantung janin positif, frekuensi 142x/menit, teratur, dengan punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu  3 jari dibawah pusat, kuadran kanan bawah. Tidak dilakukan pemeriksaan anogenital baik inspeksi, periksa dalam dan pemeriksaan laboraturium dilakukan, protein urin (-), urin reduksi (-),       Hb 10,4 gr%.
Diagnosa ibu GPA0 hamil 36 minggu 3 hari, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah tidak ada. Kebutuhan pendidikan kesehatan tentang ketidak nyamanan fisiologis dan tanda bahaya kehamilan pada trimester III, penkes tentang tanda-tanda persalinan, penkes tentang pola istirahat, kolaborasi dengan Dokter spesialis kandungan untuk dilakukan USG.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis merencanakan tindakan yaitu bina hubungan baik dengan pasien, jelaskan tentang hasil pemeriksaan, jelaskan ketidaknyamanan fisiologis dan tanda bahaya kehamilan pada  trimester III, jelaskan tentang tanda-tanda persalinan, jelaskan tentang pola istirahat, jelaskan tentang nutrisi dalam kehamilan, cara konsumsi tablet Fe, jelaskan hasil pemeriksaan dan diskusikan jadwal kunjungan ulang dan pendokumentasian hasil pemeriksaan.
Perencanaan dan intervensi yang dilakukan adalah membina hubungan baik dengan mendengarkan keluhan ibu, menjelaskan pada ibu bahwa saat ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat, saat ini usia kehamilannya 37 minggu 3 hari, menjelaskan tentang gangguan ketidak nyamanan yang timbul adalah hal yang fisiologis nyeri pada perut bagian bawah dikarenakan penurunan kepala janin dan peregangan otot-otot bawah rahim dan nafas terasa sesak ketika  tidur dikarenakan janin yang semakin besar sehingga menekan diafragma pernafasan, ini dapat diatasi dengan cara mengubah posisi ketika hendak tidur, yaitu sebaiknya miring kiri agar aliran oksigen ke janin da ke ibu tidak terhambat, menjelaskan tanda-tanda persalinan seperti keluar lendir bercampur darah, mules yang semakin lama semakin sering dan teratur, kadang disertai pecahnya ketuban dengan sendirinya apabila hal ini terjadi segera datang ke tempat tenaga kesehatan terdekat, memberitahukan kepada ibu agar melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui kondisi bayinya apakah posisi kepala sudah baik, ada lilitan tali pusat/tidak, air ketuban cukup/tidak, untuk mengetahui berat badan janin karena untuk menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya, menjelaskan tentang pola istirahat yaitu dengan tidur siang kurang lebih 2 jam dan tidur malam kurang lebih 8 jam, menjelaskan tentang pemenuhan nutrisi pada ibu hamil yaitu dengan mengkonsumsi menu gizi seimbang untuk pertumbuhan janin dan menganjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang mengandung protein seperti tempe, tahu, dan telur, karbohidrat(nasi, roti) sayuran hijau dan buah-buahan, menjelaskan kembali tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan,mengingatkan kembali agar tetap mengkonsumsi tablet Fe, mendiskusikan jadwal kunjungan ulang  2 minggu lagi yaitu pada tanggal 31 oktober 2010 atau jika ada keluhan. mendokumentasikan hasil pemeriksaan.
Hubungan dengan ibu telah terbina dengan baik, ibu merasa senang setelah mendengar hasil pemeriksaan, ibu mengerti tentang perubahan fisiologis yaitu nyeri pada bagian bawah perut dan cara mengatasinya, ibu mengerti tentang pola istirahat yang cukup yang harus dilakukan, ibu mengerti tentang tanda-tanda persalinan dan ibu mengatakan akan melakukan USG,  ibu berjanji akan datang 2 minggu lagi yaitu pada tanggal 31 oktober 2010 atau jika ada keluhan, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.

Kunjungan ke-2 Tanggal 31 oktober 2010
Pada tanggal 30 November 2009 pukul 10.00 WIB ibu datang untuk  kunjungan ulang. Ibu mengatakan merasakan gerakan janin yang aktif dan nyeri pada bagian pinggang.
Pada pemerikasan fisik, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 100/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36,8oC, berat badan 68 kg. Pada pemeriksaan kebidanan dilakukan palpasi abdomen, Leopold I tinggi fundus uteri 33 cm, fundus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak melenting. Leopold II kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin. Leopold II kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras, tidak melenting. Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen), penurunan 3/5 bagian. Tafsiran berat badan janin (33-12) x 155 = 3255 gram. palpasi supra pubik kandung kemih kosong.Letak fetus memanjang, presentasi kepala, pergerakan aktif, denyut jantung janin positif, frekuensi 145x/menit, teratur, dengan punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu  3 jari dibawah pusat, kuadran kanan bawah.
Diagnosa ibu GPA0 hamil 38 minggu 3 hari, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah tidak ada.Kebutuhan pendidikan kesehatan tentang ketidaknyamanan fisiologis pada trimester III, penkes tentang tanda-tanda persalinan, perawatan payudara.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis merencanakan tindakan yaitu bina hubungan baik dengan pasien, jelaskan tentang hasil pemeriksaan, jelaskan ketidaknyamanan fisiologis pada kehamilan trimester III, jelaskan tentang tanda-tanda persalinan, perawatan payudara, tanda bahaya dalam kehamilan, tablet Fe dan jadwal kunjungan ulang. Perencanaan dan intervensi yang dilakukan adalah membina hubungan baik dengan mendengarkan keluhan ibu, menjelaskan pada ibu bahwa saat ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat, saat ini usia kehamilannya 38 minggu, menjelaskan tentang gangguan ketidaknyamanan yang timbul adalah hal yang fisiologis disebabkan karena peregangan otot-otot ligamentum uterus akibat usia kehamilan yang semakin bertambah dan janin semakin besar dan tekanan pembesaran uterus, hal ini dapat diatasi dengan mandi air hangat, menghindari kegiatan yang tiba-tiba seperti ibu dianjurkan untuk miring terlebih dahulu ketika hendak bangun dari tidur dan banyak mengkonsumsi air putih, mengingatkan kembali tentang tanda-tanda persalinan, menjelaskan tentang perawatan payudara yaitu dengan menggunakan kapas boleh dengan air hangat atau dengan baby oil lalu dibersihkan pada bagian puting dan pemijatan yang lembut pada kedua payudara secara bergantian, menjelaskan kembali tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan seperti pengeluaran darah pervaginam, berkurangnya gerakan janin, penglihatan kabur, edema pada muka dan wajah, jika ibu mengalami hal tersebut segera datang ke tenaga kesehatan terdekat, mengingatkan kembali agar ibu tetap mengonsumsi Fe, memberitahu jadwal kunjungan ulang yaitu 1 minggu lagi tepatnya tanggal 3 november 2010 atau jika ibu ada keluhan, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengerti tentang tanda-tanda persalinan dan mengatakan akan datang kepelayanan kesehatan terdekat jika mengalami tanda-tanda persalinan tersebut, ibu mengatakan masih terus mengkonsumsi tablet Fe yang masih ada, ibu mengatakan akan datang untuk kunjungan ulang yaitu pada tanggal 7 Desember 2009, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.
Kunjungan ke-3 Tanggal 3 November 2010
Pada tanggal 3 November 2010 pukul 10.20 WIB ibu datang untuk  kunjungan ulang. Ibu mengatakan merasakan gerakan janin yang aktif,ibu mengatakan perutnya terasa tegang dan obatnya sudah habis.
Pada pemerikasan fisik, keadaan umum baik, kesadran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 100/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36,6oC, berat badan 55 kg.
Pada pemeriksaan kebidanan dilakukan palpasi abdomen, Leopold I tinggi fundus uteri 33 cm, fundus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak  melenting. Leopold II kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin. Leopold II kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras,tidak melenting. Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen), penurunan 3/5 bagian. Tafsiran berat badan janin (33-12)x155=3255 gram. palpasi supra pubik kandung kemih kosong. Letak fetus memanjang, presentasi kepala, pergerakan aktif, denyut jantung janin positif, frekuensi 142x/menit, teratur, dengan punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu  3 jari dibawah pusat, kuadran kanan bawah.
Diagnosa ibu GPA0 hamil 39 minggu 3 hari, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah perut terasa tegang.Kebutuhan penkes tentang ketidaknyamanan perut terasa tegang, tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan. Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis merencanakan tindakan yaitu bina hubungan baik dengan pasien, jelaskan tentang hasil pemeriksaan, jelaskan tentang ketidaknyamanan perut terasa tegang, tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan, penkes tentang pola istirahat, nutrisi dalam kehamilan, berikan tablet Fe, jadwal kunjungan ulang. Perencanaan dan intervensi yang dilakukan adalah membina hubungan baik dengan mendengarkan keluhan ibu, menjelaskan pada ibu bahwa saat ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat,saat ini usia kehamilannya 39 minggu 3 hari, menjelaskan tentang ganguan ketidaknyamanan yaitu perut terasa tegang dan itu merupakan hal yang fisiologis yaitu karena kontraksi Braxtion Hicks cara mengatasinya adalah menarik nafas panjang dari hidung dan hembuskan perlahan dari mulut ketikan rasa tegang untuk muncul, menjelaskan tanda-tanda persalinan seperti keluar lendir bercampur darah, mules yang semakin lama semakin sering dan teratur, kadang disertai pecahnya ketuban dengan sendirinya apabila hal ini terjadi segera datang ke tempat tenaga kesehatan terdekat, menjelaskan tentang persiapan persalinan yaitu perlengkapan ibu dan perlengkapan bayi, biaya, transportasi untuk mengantar ibu ke RS, pendamping persalinan yang akan menemani ibu sewaktu bersalin, menjelaskan tentang pola istirahat yaitu dengan tidur siang kurang lebih 2 jam dan tidur malam kurang lebih 8 jam, menjelaskan tentang pemenuhan nutrisi pada ibu hamil yaitu dengan mengkonsumsi menu gizi seimbang untuk pertumbuhan janin dan menganjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang mengandung protein seperti tempe, tahu, dan telur, karbohidrat (nasi, roti) sayuran hijau dan buah-buahan, memberikan tablet Fe dengan dosis 1x1 tablet/hari, diminum menjelang tidur  malam untuk mengurangi rasa mual dan sebaiknya diminum dengan air putih atau air jeruk dan efek sampingnya  adalah warna feses akan menjadi hitam, memberitahu jadwal kunjungan ulang yaitu 1 minggu lagi tepatnya tanggal 10 November atau jika ibu ada keluhan, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengerti tentang persiapan persalinan dan ibu mengatakan akan menyiapkan semua keperluan untuk bayi dan dirinya juga termasuk masalah keuangan dan siapa yang akan mengantar, mendampingi ibu ketika bersalin nanti, ibu mengerti tentang rasa tegang pada bagian perutnya dan mengerti cara mengatasinya, ibu berjanji akan datang kembali untuk kunjungan pada tanggal 10 November 2010
Kunjungan ke-4 Tanggal 10 November 2010
Pada tanggal 10 November 2010 pukul 10.40 WIB ibu datang untuk  kunjungan ulang. Ibu mengatakan merasakan gerakan janin yang aktif, ibu mengatakan cemas karena bayinya tidak segera lahir, ibu mengatakan ingin melakukan pemeriksaan USG.
Pada pemerikasan fisik, keadaan umum baik, kesadran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 82 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36oC, berat badan 70 kg. Pada pemeriksaan kebidanan dilakukan palpasi abdomen, Leopold I tinggi fundus uteri 34 cm,f undus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak  melenting. Leopold II kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin. Leopold II kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras, tidak melenting. Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen), penurunan 3/5 bagian. Tafsiran berat badan janin (33-12) x 155 = 3255 gram. palpasi supra pubik kandung kemih kosong. Letak fetus memanjang, presentasi kepala, pergerakan aktif, denyut jantung janin positif, frekuensi 142x/menit, teratur, dengan punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu  3 jari dibawah pusat, kuadran kanan bawah. Pemeriksaan laboratorium Hb 12 %.,
Diagnosa ibu GPA0 hamil 40 minggu, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah cemas karena bayinya tidak segera lahir. Kebutuhan penkes tentang tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan. Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis merencanakan tindakan yaitu bina hubungan baik dengan pasien, jelaskan tentang hasil pemeriksaan, jelaskan tentang ketidaknyamanan perut terasa tegang, tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan, penkes tentang pola istirahat, tablet Fe, jadwal kunjungan ulang.
Perencanaan dan intervensi yang dilakukan adalah membina hubungan baik dengan mendengarkan keluhan ibu, menjelaskan pada ibu bahwa saat ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat, saat ini usia kehamilannya 40 minggu 3 hari, menjelaskan tanda-tanda persalinan seperti keluar lendir bercampur darah, mules yang semakin lama semakin sering dan teratur, kadang disertai pecahnya ketuban dengan sendirinya apabila hal ini terjadi segera datang ke tempat tenaga kesehatan terdekat, menjelaskan tentang persiapan persalinan yaitu perlengkapan ibu dan perlengkapan bayi, biaya, transportasi untuk mengantar ibu ke RS, pendamping persalinan yang akan menemani ibu sewaktu bersalin, menjelaskan tentang pola istirahat yaitu dengan tidur siang kurang lebih 2 jam dan tidur malam kurang lebih 8 jam,memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan USG yaitu posisi kepala sudah masuk panggul, usia kehamilan 39-40 minggu, berat badan janin 3300 gram, air ketuban cukup, plasenta difundus, jenis kelamin perempuan, menganjurkan ibu untuk melakukan hubungan seksual dengan suami untuk merangsang timbulnya kontraksi/mules dalam persalinan, mengingatkan ibu agar tetap mengkonsumsi tablet Fe, memberitahu jadwal kunjungan ulang yaitu 1 minggu lagi tepatnya tanggal 21 Desember 2009 atau jika ibu ada keluhan, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengatakan melaksanakan anjuran yang disarankan oleh bidan, ibu senang dengan hasil pemeriksaan USG nya, ibu mengerti tentang tanda-tanda dan persiapan persalinan, ibu mengatakan akan kunjungan ukang 1 minggu lagi tepatnya tanggal 17 November 2010 atau jika ada keluhan, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.

Kunjungan ke-5 Tanggal 17 November 2010
Pada tanggal 17 November 2010 pukul 11.00 WIB ibu datang untuk  kunjungan ulang. Ibu mengatakan merasakan gerakan janin yang aktif, ibu mengatakan cemas karena bayinya tidak segera lahir, Pada pemerikasan fisik, keadaan umum baik, kesadran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 81 x/menit, pernafasan 22 x/menit, suhu 36oC, berat badan 71 kg. Pada pemeriksaan kebidanan dilakukan palpasi abdomen, Leopold I tinggi fundus uteri 35 cm,f undus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak  melenting. Leopold II kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin. Leopold II kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras, tidak melenting. Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen), penurunan 3/5 bagian. Tafsiran berat badan janin (35-12) x 155 = 3565 gram. palpasi supra pubik kandung kemih kosong. Letak fetus memanjang, presentasi kepala, pergerakan aktif, denyut jantung janin positif, frekuensi 142x/menit, teratur, dengan punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu  3 jari dibawah pusat, kuadran kanan bawah. Pemeriksaan laboratorium Hb 12 %.,
Diagnosa ibu GPA0 hamil 41 minggu, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah cemas karena bayinya tidak segera lahir. Kebutuhan penkes tentang tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan. Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis merencanakan tindakan yaitu bina hubungan baik dengan pasien, jelaskan tentang hasil pemeriksaan, jelaskan tentang ketidaknyamanan perut terasa tegang, tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan, penkes tentang pola istirahat, tablet Fe, jadwal kunjungan ulang.
Perencanaan dan intervensi yang dilakukan adalah membina hubungan baik dengan mendengarkan keluhan ibu, menjelaskan pada ibu bahwa saat ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat, saat ini usia kehamilannya 41 minggu, menjelaskan tanda-tanda persalinan seperti keluar lendir bercampur darah, mules yang semakin lama semakin sering dan teratur, kadang disertai pecahnya ketuban dengan sendirinya apabila hal ini terjadi segera datang ke tempat tenaga kesehatan terdekat, menjelaskan tentang persiapan persalinan yaitu perlengkapan ibu dan perlengkapan bayi, biaya, transportasi untuk mengantar ibu ke RS, pendamping persalinan yang akan menemani ibu sewaktu bersalin, menjelaskan tentang pola istirahat yaitu dengan tidur siang kurang lebih 2 jam dan tidur malam kurang lebih 8 jam, menganjurkan ibu untuk melakukan hubungan seksual dengan suami untuk merangsang timbulnya kontraksi/mules dalam persalinan, mengingatkan ibu agar tetap mengkonsumsi tablet Fe, memberitahu jadwal kunjungan ulang yaitu 1 minggu lagi tepatnya tanggal 24 November 2010 atau jika ibu ada keluhan, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengatakan melaksanakan anjuran yang disarankan oleh bidan, ibu mengerti tentang tanda-tanda dan persiapan persalinan, ibu mengatakan akan kunjungan ukang 1 minggu lagi tepatnya tanggal 24 November 2010 atau jika ada keluhan, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.

3.2.        Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin
SOAP Kala I Pukul 09.00 WIB
Ibu datang ke BPS Bidan Ajeng tanggal 24 november 2010, pukul 09.00 WIB,  dengan keluhan mules-mules yang semakin sering dan keluar lendir bercampur darah sejak pukul 09.00 WIB.
Hasil pemeriksaan fisik ibu, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,0C, nadi 80 x/menit, pernapasan 20x/menit, tinggi badan  165 cm, berat badan sekarang 71 kg.
Pemeriksaan sistematis bagian rambut bersih, tidak berketombe, tidak rontok, muka kelopak mata tidak edema, konjungtiva tidak pucat, skelera tidak ikterik, mulut dan gigi bersih, gigi ada caries dan berlubang lidah dan graham tidak ada stomatitis. Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan getah bening pada leher.Jantung tidak dan paru-paru tidak dilakukan pemeriksaan, mamae kanan dan kiri sama besar, puting susu kanan dan kiri bersih dan menonjol,sudah ada pengeluaran Colostrum,  mamae kanan dan kiri simetris, pada aerola terjadi hiperpigmentasi dan terjadi pembesaran kelenjar mongomeri, ada pengeluaran colostrum dan tidak ada rasa nyeri. Posisi tulang belakang lordosis fisiologis, tidak ada nyeri pinggang. Ekstremitas atas dan bawah  tidak ada edema, kekuatan sendi kuat, tidak ada kemerahan, varises tidak ada, reflek patella positif pada kaki kanan dan kiri.Pada Inspeksi abdomen terdapat linea alba dan striae, tidak ada luka bekas operasi SC dan bekas operasi appendix, konsistensi lunak, pembesaran lien atau liver tidak ada, pembesaran abdomen sesuai usia kehamilan dan benjolan tidak ada.
Pada pemeriksaan palpasi uterus Leopold I tinggi fundus uteri 35 cm, fundus uteri teraba satu bagian bulat, lunak, tidak melenting. Leopold II sebelah kiri teraba bagian-bagian kecil dari janin.Leopold II sebelah kanan teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan. Leopold III teraba satu bagian bulat, keras, tidak melenting. Leopold IV bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul (Divergen) 3/5 bagian.Kontraksi aktif, fetus letak memanjang, presentasi kepala, penurunan 3/5 bagian, pergerakan aktif, tafsiran berat badan janin (35-12) x 155 = 3565 gram, auskultasi denyut jantung fetus positif, frekuensi 148 x/menit, teratur, punctum maksimum terdengar jelas disatu titik yaitu 3 jari dibawah pusat kuadran kanan bawah. Pada pemeriksaan anogenital perineum tidak ada luka parut, vulva vagina berwarna kemerahan, luka tidak ada, fistula tidak ada, varises tidak ada, pengeluaran pervaginam lendir bercampur darah warna kecoklatan, konsistensi kental, jumlah kurang lebih 5 cc, tidak ada pembengkakan kelenjar bartholini, haemoroid tidak ada.Lalu dilakukan pemeriksaan dalam atas indikasi menegakkan diagnosa pukul 09.30 WIB, didapat hasil pemeriksaan dalam, dinding vagina tidak ada kelainan, portio arah posterior, konsistensi tipis lunak, pembukaan 3 cm, ketuban positif, presentasi kepala, penurunan bagian terendah janin hodge II, posisi ubun-ubun kecil kanan depan.
Diagnosa ibu GPA0 hamil 41 minggu inpartu kala I fase laten, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala. Masalah tidak ada. Kebutuhan teknik relaksasi, support mental, posisi, nutrisi dan cairan. Berdasarkan hasil pemeriksaan penulis membuat perencanaan beritahu hasil pemeriksaan, merencanakan partus pervaginam, ajarkan teknik relaksasi, berikan support mental, mengatur posisi nyaman bagi ibu, penuhi kebutuhan nutrisi serta cairan, menganjurkan ibu agar tidak menahan BAK dan BAB,  menganjurkan ibu untuk berjalan-jalan, hadirkan orang terdekat saat persalinan, siapkan alat dan ruangan, mengobservasi DJJ, his, nadi setiap 30 menit dan mengobservasi TD, suhu dan kemajuan persalinan setiap 4 jam/jika ada indikasi, dokumentsikan hasil pemeriksaan.
Memberitahu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan janinnya dalam keadaan sehat dan ibu senang dengan hasil pemeriksaan, merencanakan partus pervaginam, mengajarkan ibu teknik relaksasi yaitu dengan menarik nafas panjang melalui hidung disaat mules muncul dan dihembuskan perlahan-lahan dari mulut dan ibu mengerti teknik relaksasi, memberikan ibu support mental, mengatur posisi yang nyaman bagi ibu sesuai kemauan ibu yaitu miring kiri,  penuhi kebutuhan nutrisi dan cairan bagi ibu, kebutuhan nutrisi dan cairan sudah terpenuhi, menganjurkan ibu agar tidak menahan BAK dan BAB karena akan memperhambat penurunan kepala janin, menghadirkan orang terdekat saat persalinan, suami sudah mendampingi ibu, menyiapkan alat-alat dan ruangan, alat-alat sudah disiapkan, melakukan observasi DJJ, his, nadi setiap 30 menit dan melakukan observasi TD, suhu, kemajuan persalinan setiap 4 jam/jika ada indikasi, ibu sudah diobservasi, mendokumentasikan hasil pemeriksaan, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.
Hasil observasi DJJ, his, nadi setiap 30 menit, pada pukul 10.30  WIB, dilakukan pemantauan hasilnya adalah his 3 kali dalam 10 menit, lamanya 30 detik, kekuatan kuat, hasil auskultasi DJJ 143 kali/menit, nadi 82 kali/menit.Pukul 11.30 WIB hasilnya, his 4 kali dalam 10 menit, lamanya 30 detik, kekuatan kuat, auskultasi DJJ 147 kali/menit, nadi 82 kali/menit. Pukul 12.30 WIB, hasilnya adalah his 4 kali dalam 10 menit, lamanya 35 detik, kekuatan kuat, auskultasi DJJ 140 kali/menit, nadi 80 kali/menit. Pukul 13.00 WIB hasilnya his 4 kali dalam 10 menit, lamanya 40 detik, kekuatan kuat, auskultasi DJJ 141 kali/menit, nadi 82 kali/menit pembukaan: 8cm, portio tipis lunak, dilakukan amniotomi, ketuban : hijau, encer, banyaknya ± 100cc.
Pukul 13.30 WIB hasilnya his 4 kali dalam 10 menit, lamanya 45 detik, kekuatan kuat, auskultasi DJJ 148 kali/menit, nadi 82 kali/menit,

SOAP Kala II Pukul 13.35 WIB 
Pukul 13.35 WIB ibu mengatakan mules yang semakin sering dan kuat, ibu mengatakan merasakan ingin meneran.
Terlihat tanda-tanda gejala kala II yaitu, dorongan ingin meneran,tekanan pada anus, perineum menonjol dan vulva membuka. Dan terlihat crowning.
Diagnosa ibu GPA0 hamil 41 minggu partus kala II, janin tunggal, hidup intrauterine, presentasi kepala.Masalah tidak ada.Kebutuhan pendamping persalinan, support mental dan pimpinan persalinan.
Intervensi yang diberikan yaitu memeritahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu akan segera melahirkan, menghadirkan pendamping persalinan, memberikan dukungan dan semangat, mendekatkan alat-alat, membantu ibu mencari posisi yang nyaman selama persalinan, menganjurkan ibu memilih posisi ½ duduk, mengajarkan teknik meneran yang baik  pada ibu, memantau DJJ diantara his, membimbing ibu untuk meneran disaat puncak his dan menolong persalinan yaitu menolong kelahiran kepala, cek lilitan tali pusat, melahirkan bahu dan lahirlah anggota badan seluruhnya.Pukul 13.35 WIB, bayi lahir spontan pervaginam, letak belakang kepala, jenis kelamin laki-laki, apgar score 9/10,  melakukan palpasi abdomen untuk menentukan apakah ada janin kedua atau tidak, menyuntikan oksitosin 10 IU/IM, melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini ).

SOAP Kala III Pukul 13.40 WIB
Ibu mengatakan masih merasakan mules. Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, palpasi tinggi fundus uteri sepusat, uterus teraba keras, uterus teraba bundar, kontraksi uterus baik, perdarahan kurang lebih 90 cc, kandung kemih kosong. Terlihat tanda-tanda pelepasan plasenta seperti semburan darah secara tiba-tiba, tali pusat memanjang dan uterus globular.
Diagnosa ibu PA0 partus kala III. Masalah tidak ada.Kebutuhan penanganan manajemen aktif kala III.
Intervensi yang dilakukan, memberitahukan ibu tindakan yang akan dilakukan, melakukan manajemen aktif kala III, yaitu palpasi abdomen untuk menentukan apakah ada janin kedua atau tidak, memberikan suntik oksitosin 10 unit/IM, lakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT), melahirkan plasenta secara Brand Andrew, massase fundus uteri selama 15 detik/ 15 kali putaran, memeriksa perlukaan jalan lahir, perineum utuh, robekan pada labia minora bagian anterior, perdarahan kurang lebih 90 cc, mengidentifikasi kelengkapan plasenta. Pukul 13.40 WIB plasenta lahir lengkap, selaput plasenta lengkap, insersi marginalis, panjang tali pusat 60 cm, kotiledon utuh, diameter plasenta 21, tebal 2 cm, berat 500 gram, terdapat pengapuran.
SOAP Kala IV Pukul 14.00 WIB
Ibu mengatakan masih merasakan mules, dan ibu mangatakan senang atas kelahiran bayinya. Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 74 x/menit, pernafasan 22 x/menit, suhu 36,30C. Palpasi tinggi fundus uteri 1 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan kurang lebih 5 cc, tidak terdapat robekan perineum, pemenuhan nutrisi dan cairan.
Diagnosa ibu PA0 partus kala IV. Masalah tidak ada. Kebutuhan istirahat, personal hygiene.
Intervensi yang dilakukan adalah, observasi tanda-tanda vital (TTV), keadaan umum, tinggi fundus uteri (TFU), kontraksi uterus, perdarahan, kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan 30 menit pada jam kedua. Memberikan cairan dan nutrisi yang cukup pada ibu, menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, Menganjurkan ibu untuk membersihkan kemaluannya sehabis mandi/BAK. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini yaitu dengan cara miring dan miring kanan. Mengajarkan ibu untuk cara massase fundus, bila kontraksi rahim lembek/tidak bagus. Menganjurkan ibu untuk menyusui sesering mungkin. Memberikan obat Opistan 3x kali sehari untuk menghilangkan rasa nyeri, Farmabion 1 kali sehari untuk tambah darah dan Vitamin A 3 kali sehari untuk mengurangi resiko rabun senja, melakukan observasi nifas 2 jam post partum




Waktu
Tekanan darah
Nadi
Suhu
TFU
Kontraksi uterus
Kandung kemih
Perdarahan
14.45
90/60
74
36,3
1jdp
baik
kosong
5cc
15.00
90/70
75

1jdp
baik
kosong
5cc
15.15
110/80
76

1jdp
baik
kosong
10
15.30
120/80
76

2jdp
Baik
Kosong
10
16.00
120/80
78
36
2jdp
Baik
Kosong
15
16.30
120/90
78

2jdp
Baik
kosong
15

Melakukan pencatatan dan pelaporan. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Pukul 17.00 mengantarkan pasien pulang kerumahnya.

3.3.        Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir
Observasi 1 hari Pukul 07.00 WIB
By. M, umur 0 hari. Tanggal lahir 24 november 2010, pukul 13.35 WIB, jenis kelamin laki-laki, berat badan 3700 gram, panjang badan 51 cm.  Anamnesa dilakukan pada tanggal 25 november 2010, pukul 07.00 WIB. Riwayat penyakit kelamin dan lain-lain tidak ada. Kebiasaan waktu hamil makan 3 kali sehari dengan  nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Ibu mengatakan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan kecuali yang diberikan oleh bidan, dan ibu mengatakan tidak minum jamu dan merokok. Riwayat persalinan sekarang yaitu jenis persalinan spontan pervaginam, lama persalinan 20 menit. Dilakukan amniotomi, tidak ditemukan komplikasi selama persalinan. Nilai APGAR 9/10. Tidak dilakukan resusitasi.
Keadaan umum baik, suhu 370C, pernafasan 50 kali/menit, Heart rate 140 kali/menit, gerakan aktif. Dilakukan pemeriksaan fisik secara sistematis, kepala tidak ada kaput succedenum dan tidak ada cephal hematom, ubun-ubun tidak ada kelainan, ubun-ubun menutup, muka tidak ada kelainan, mata terdapat dua bola mata, simetris, daun telinga lengkap kanan dan kiri simetris, mulut tidak ada labio palato skizis, hidung ada septum, tidak ada pernafasan cuping hidung, leher tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tarikan dada normal, tidak ada hernia diafragma, tali pusat terdiri dari 2 arteri umbilicallis dan 1 vena umbilicallis, punggung tidak ada spina bifida, ekstremitas simetris, tidak ada polidaktili, sindaktili, dan andaktili, anus positif, reflekmoro, rooting, walking, graphs/plantar, sucking dan tonick neck positif. Lingkar kepala 34 cm, lingkar dada 33 cm, lingkar lengan atas 11 cm, bayi sudah BAB dan BAK.
Diagnosis Neonatus Cukup Bulan Sesuai  dengan Masa Kehamilan hari pertama. Masalah tidak ada. Kebutuhan Inisiasi menyusu dini (IMD), pertahankan suhu tubuh bayi, perawatan tali pusat. Dari hasil pemeriksaan penulis membuat perencanaan bina hubungan baik dengan ibu, jelaskan hasil pemeriksaan, perawatan tali pusat, lakukan IMD, bedong bayi dengan kain kering, pertahankan suhu tubuh bayi, berikan vit k, salep mata, vaksin hepatitis dan polio oral, anjurkan ibu untuk menjemur bayi setiap pagi, dokumentasikan hasil pemeriksaan. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa bayi dalam keadaan sehat. Melakukan perawatan tali pusat dengan membungkus tali pusat dengan kasa kering dan steril, tali pusat telah dibungkus. Melakukan IMD, IMD  sudah dilakukan. Bayi dibedong dengan kain kering, bayi sudah dibedong. Pertahankan suhu tubuh bayi.Vit k, salep mata, vaksin hepatitis sudah diberikan. Dokumentasikan hasil pemeriksaan.
Pemeriksaan neonatus 6 hari tanggal 1 desember 2010
Penulis melakukan pemeriksaan nifas dan neonates 6 hari di BPS bidan Ajeng pada tanggal 1 Desember 2010 pukul 09.15 WIB. Ibu mangatakan bayi dalam keadaan baik, bayi menyusu kuat, ASI nya banyak, refleks hisap kuat dan ibu mengatakan tali pusat sudah puput pada tanggal 31 november 2010. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik,nadi 138 kali/menit, pernafasan 36 kali/menit, suhu 36,50C, berat badan 3100 gram (terjadi kenaikan berat badan sebesar 100 gram), panjang badan 48 cm, tali pusat sudah puput, tidak ada tanda-tanda infeksi, kulit tidak ikterik, gerakan bayi aktif, buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) positif.
Maka ditegakkan diagnosa Neonatus Cukup Bulan sesuai masa kehamilan hari ke-7 Masalah tidak ada.Kebutuhan tentang personal hygiene dan penkes tentang ASI eksklusif.
Intervensi yang dilakukan yaitu menjelaskan tentang hasil pemeriksaan bahwa untuk saat ini bayi dalam keadaan sehat, menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan selama 6 bulan penuh tanpa diberikan makanan tambahan,  mengajarkan ibu agar tetap menjaga personal hygiene bayinya, mempertahankan suhu tubuh bayi, menganjurkan ibu agar menjemur bayinya setiap pagi selama 15 sampai 20 menit untuk menghindari ikterus, menganjurkan ibu untuk tetap merawat tali pusat yang sudah puput agar tetap kering dan tidak mengoleskan apapun, menjelaskan kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi seperti, bayinya panas, muntah, diare,kejang dsb ,mendokumentasikan hasil pemeriksaan.Ibu mengerti tentang  hasil pemeriksaan dan merasa senang, ibu mengatakan akan memberikan ASInya selama 6 bulan penuh, dan ibu mengerti akan tanda-tanda-tanda bahaya jika terjadi pada bayinya dan mengatakan akan selalu waspada, asuhan yang diberikan sudah didokumentasikan.
Pemeriksaan neonatus 2 minggu tanggal 8 desember 2010
Pada tanggal 8 desember 2010 pukul 10.05 WIB, ibu mengatakan bayinya dalam keadaan baik, gerakan bayi aktif, menghisap ASI dengan kuat dan refleks hisapnya baik. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik, nadi 138 kali/menit, pernafasan 36 kali/menit,suhu 36,50C, berat badan 4900 gram(terjadi kenaikan berat badan sebesar 1100 gram), panjang badan 52 cm, gerakan bayi aktif, kulit bayi tidak ikterik, buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) positif.
Maka ditegakkan diagnosa Neonatus Cukup Bulan sesuai masa kehamilan 2 minggu.Masalah tidak ada. Kebutuhan tentang personal hygiene dan penkes tentang kebutuhan ASI eksklusif.
Intervensi yang dilakukan yaitu menjelaskan tentang hasil pemeriksaan bahwa bayi untuk saat ini dalam keadaan sehat, mengingatkan kembali kepada ibu agar merawat bayinya dan menjaga kebersihannya, menganjurkan dan memotivasi ibu untuk terus memberikan ASI selama 6 bulan penuh tanpa diberikan makanan tambahan, mengingatkan ibu untuk mengimunisasi bayinya tepat waktu,  mengingatkan kembali dan waspada terhadap tanda-tanda bahaya pada bayi seperti bayinya panas, muntah, diare, kejang dsb dan menganjurkan pada ibu bila terjadi tanda-tanda bahaya tersebut pada bayinya agar segera membawanya ke bidan/dokter/RS terdekat, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengatakan akan menjaga kebersihan bayinya dengan memandikannya setiap pagi dan sore hari, ibu mengatakan akan memberikan ASI eksklusif, ibu masih ingat akan tanda-tanda bahaya pada bayi, ibu mengatakan akan membawa bayinya imunisasi sesuai anjuran bidan semua hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.
Kunjungan Rumah Ke-3 Tanggal 15 Januari 2010, Pukul 11.00 WIB
Pada tanggal 15 Januari 2010 pukul 11.00 WIB, ibu mengatakan bayinya dalam keadaan baik, menghisap ASI dengan lancar, refleks hisap dan menelan bayi baik dan gerakan bayi aktif. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik, nadi 136kali/menit, pernafasan 38 kali/menit, suhu 36,50C, berat badan 3300 gram(terjadi kenaikan berat badan sebesar 150 gram), panjang badan 48 cm,gerakan bayi aktif, kulit tidak ikterik, buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) positif.
Maka ditegakkan diagnosa Neonatus Cukup Bulan sesuai masa kehamilan hari ke-28. Masalah tidak ada. Kebutuhan tentang kebutuhan ASI eksklusif dan imunisasi.
Intervensi yang dilakukan yaitu menjelaskan tentang hasil pemeriksaan pada ibu, bahwa bayinya untuk saat ini dalam keadaan sehat, menganjurkan dan memotivasi ibu untuk terus memberikan ASI selama 6 bulan penuh tanpa diberikan makanan tambahan, mengingatkan kembali kepada ibu agar merawat bayinya dan menjaga kebersihannya setiap hari, mengingatkan ibu untuk mengimunisasi bayinya pada tanggal 18 Januari 2010, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu merasa senang dengan hasil pemeriksaan, ibu berjanji akan membawa bayinya untuk mendapatkan imunisasi ke bidan terdekat sesuai dengan jadwal yang ditetapkan yaitu pada tanggal 18 Januari 2010, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan.
3.4.        Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas
Observasi 6-8 jam Pukul 00.30 WIB
Anamnesa dilakukan pada tanggal  19 Desember 2009, ibu partus  spontan pervaginam, pukul 18.30 WIB, lama persalinan 4 jam 20 menit, tempat UPK.  Thamrin Pondok Gede, Jakarta Timur. Ibu dirawat diruang nifas, komplikasi dan kelainan dalam persalinan tidak ada.
Dilakukan pemeriksaan fisik, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 kali/menit, suhu 360C, pernafasan 20 kali/menit. Sudah ada pengeluaran colostrum, puting susu menonjol dan bersih. Tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, konsistensi uterus baik dan keras, posisi uterus lateral, pengeluaran lokhea rubra, bau khas, jumlah kurang lebih 50 cc, kandung kemih kosong, ekstremitas tidak ada edema, refleks kiri dan kanan positif, kemerahan tidak ada.
Diagnosis ibu P3A0 post partum hari pertama. Masalah tidak ada. Kebutuhan istirahat, penkes tentang  nutrisi, penkes tentang mobilisasi dini, tanda-tanda bahaya nifas dan personal hygiene.
Intervensi yang dilakukan adalah memberitahukan kepada ibu bahwa untuk saat ini kondisi ibu dalam keadaan baik,menganjurkan ibu agar tetap menjaga kesehatan tubuhnya dengan istirahat yang cukup atau jika bayinya tidur ibu juga ikut tidur,menjelaskan kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi selama menyusui  dengan makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan produksi ASI seperti sayuran hijau, tempe, tahu, kacang-kacangan agar membantu produksi ASI, menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini dengan cara miring kiri atau miring kanan, kemudian duduk dan berjalan perlahan-lahan, menjelaskan tentang tanda-tanda bahaya nifas seperti perdarahan yang banyak, suhu badan panas, mata berkunang-kunang,pandangan kabur, jika ibu mengalami tanda-tanda bahaya tersebut segera datang ke tenaga kesehatan terdekat, menjelaskan tentang personal hygiene pada ibu, yaitu mandi minimal 2 kali sehari, termasuk mengganti pakaian dalam, membersihkan daerah kemaluannya setiap habis BAK/BAB dengan menggunakan sabun dan air mengalir dibasuh dari arah depan kebelakang kemudian dikeringkan agar tidak lembab dan mengganti pembalut jika terasa sudah penuh, menganjurkan ibu agar memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun, memberikan amoxilin 3x1 tablet/hari dan asam mefenamat 3x1 tablet/ hari, tablet Fe 1x1 tablet/hari, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengerti tentang personal hygiene yang telah dijelaskan dan mengatakan akan selalu menjaga kebersihan dirinya, ibu akan minum obat yang sudah diberikan sesuai anjuran, ibu mengerti akan tanda-tanda bahaya dalam masa nifas dan mengatakan akan selalu waspada hasil pemeriksaan sudah didokumentasikan.
Kunjungan Nifas ke-1 Tanggal 25 Desember 2009,Pukul 09.40 WIB
Pada tanggal 25 Desember 2009 pukul 09.40 WIB, penulis mengadakan kunjungan nifas kerumah pasien, ibu mengatakan masih sedikit merasakan mules, ibu mengatakan senang setelah melahirkan bayinya. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 84 kali/menit, pernafasan 22 kali/menit, suhu 36,80C. Konjungtiva tidak pucat,skelera tidak ikterik, kelopak mata tidak edema, payudara kenyal, pengeluaran ASI banyak, puting susu bersih dan menonjol. Tinggi fundus uteri 2 jari diatas sympisis, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, lokhea serosa.
Diagnosis ibu PA0 nifas hari ke-7. Masalah tidak ada.Kebutuhan nutrisi, penkes tentang personal hygiene, nutrisi, istirahat.
Intervensi yang dilakukan adalah memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa untuk saat ini kondisi ibu dalam keadaan baik, menjelaskan tentang personal hygiene pada ibu, yaitu mandi minimal 2 kali sehari, termasuk mengganti pakaian dalam, membersihkan daerah kemaluannya setiap habis BAK/BAB dengan menggunakan sabun dan air mengalir dibasuh dari arah depan kebelakang kemudian dikeringkan agar tidak lembab, menganjurkan ibu agar mengkonsumsi makanan yang bergizi saperti sayuran hijau, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging untuk membantu proses produksi ASI, menganjurkan ibu agar tetap menjaga kesehatan tubuhnya dengan istirahat yang cukup atau jika bayinya tidur ibu juga ikut tidur, mengingatkan kembali tentang tanda-tanda bahaya nifas, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengatakan masih ingat tentang kebersihan dirinya yang dikatakan oleh bidan, ibu setuju dan akan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan mengatakan agar ASI nya banyak dan lancar, ibu senang dengan hasil pemeriksaan, semua pemeriksaan sudah didokumentasikan.
Kunjungan Nifas ke-2 Tanggal 01Januari 2010, pukul 10.25 WIB
Pada tanggal 01 Januari 2010 pukul 10.25 WIB, penulis mengadakan kunjungan nifas kerumah pasien, ibu mengatakan ASI ibu lancar, ibu mengatakan tidak ada keluhan. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 82 kali/menit, pernafasan 20 kali/menit, suhu 36,80C. Tinggi fundus uteri tidak teraba, kandung kemih kosong, lokhea sanguilenta.
Diagnosis ibu P3A0 nifas hari ke-14. Masalah tidak ada. Kebutuhan menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan makan makanan yang bergizi.
Intervensi yang dilakukan adalah memberitahukan kepada ibu bahwa untuk saat ini kondisi ibu dalam keadaan baik, mengingatkan kembali agar ibu istirahat yang cukup agar kondisinya kesehatannya pulih kembali, mengingatkan ibu agar terus mengkonsumsi makanan yang bergizi saperti sayuran hijau, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging untuk membantu proses produksi ASI, mengingatkan dan memotivasi ibu agar terus menyusui bayinya setiap hari dan selama 6 bulan penuh tanpa makanan tambahan apapun, mengingatkan ibu tentang personal hyiene, memberikan tablet Fe dosis 1x1 tablet/ hari, mendokumentasikan hasil pemeriksaan, Ibu mengatakan akan terus menyusui bayinya, ibu mengatakan akan cukup istirahat sesuai yang dianjurkan oleh bidan dan mengatakan akan tidur disaat bayinya juga tidur, semua hasil pemeriksaan telah didokumntasikan.
Kunjungan Nifas Ke-3 Tanggal 15 Januari 2010, Pukul 11.30 WIB
Pada tanggal 15 Januari 2010 pukul 11.30 WIB, penulis mengadakan kunjungan nifas kerumah pasien, ASI ibu banyak dan lancar. Dilakukan pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 kali/menit, pernafasan 20 kali/menit, suhu 36,40C. Tinggi fundus uteri tidak teraba, kandung kemih kosong, lochea alba.
Diagnosis ibu P3A0 nifas hari ke-28. Masalah tidak ada. Kebutuhan menganjurkan ibu untuk istirahat cukup, personal hygiene, perawatan payudara dan penkes tentang KB.
Intervensi yang dilakukan adalah memberitahukan kepada ibu bahwa untuk saat ini kondisi ibu dalam keadaan baik, menjelaskan kembali tentang personal hygiene pada ibu, yaitu mandi minimal 2 kali sehari, termasuk mengganti pakaian dalam, membersihkan daerah kemaluannya setiap habis BAK/BAB dengan menggunakan sabun dan air mengalir dibasuh dari arah depan kebelakang kemudian dikeringkan agar tidak lembab, menganjurkan ibu agar rajin untuk merawat dan membersihkan payudaranya dibersihkan dengan kapas yang sudah dibasahi dengan baby oil/air hangat dan dibersihkan pada bagian puting secara bergantian, menjelaskan tentang pentingnya KB untuk mengatur jarak kehamilan dan jenis-jenis KB yang sesuai untuk ibu menyusui,ibu mengatakan akan berdiskusi dengan suami, menganjurkan ibu agar terus memberikan ASInya, mengingatkan kembali agar ibu tetap menjaga kesehatan tubuhnya dengan istirahat yang cukup atau jika bayinya tidur ibu juga ikut tidur, mengingatkan kembali tentang tanda-tanda bahaya nifas, mengingatkan kembali agar ibu mengkonsumsi tablet Fe nya, mendokumentasikan hasil pemeriksaan. Ibu mengatakan akan membersihkan payudaranya, ibu mengatakan akan terus menjaga kebersihan dirinya setiap hari, ibu mengatakan akan berunding/menanyakan dulu tentang alat kontrasepsi apa yang akan dipilihnya nanti, tetapi ibu mengatakan dari dulu tidak pernah memakai KB apapun tetapi cukup dengan menyusui bayinya saja, hasil pemeriksaan telah didokumentasikan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar