Jumat, 30 Desember 2011

Makalah Solusio Plasenta


ASUHAN KEBIDANAN pada IBU HAMIL

BAB I Ringkasan Pokok
Solusio Plasenta
Dari solusio plasenta tak hanya pasien tapi janin yang dikandungnya sangat berisiko tinggi meninggal dunia. Solusio plasenta merupakan suatu keadaan dimana plasenta terlepas dari tempat implantasinya di dalam uterus sebelum bayi dilahirkan.
Ada 3 macam bentuk solusio berdasarkan jumlah plasenta yang terlepas. Bila plasenta terlepas seluruhnya disebut solusio plasenta totalis. Bila sebagian disebut solusio plasenta parsialis. Dan, bila hanya sebagian kecil pinggir plasenta disebut ruptura sinus marginalis.
Perdarahan yang terjadi pada solusio tidak selalu terlihat dari luar. Pada kasus yang jarang, darah dapat tidak mengalir, tetapi tertahan di antara bagian plasenta yang lepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi. Bahkan, perdarahan dapat menembus selaput ketuban lalu masuk ke dalam kantong ketuban.
 Solusio plasenta merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang serius dan mengakibatkan tingginya angka mortalitsai perinatal yaitu 119 per 1000 kelahiran dibandingkan dengan 8,2 per 1000 kelahiran yang lain. Untungnya, jarang dijumpai. Di negeri Paman Sam, solusio plasenta hanya ditemukan sebanyak 1%.                            
 Belum ada yang berhasil menemukan penyebab pasti solusio plasenta. Namun, faktor risikonya antara lain umur ibu yang tua, multiparitas, kehamilan multipel, trauma, tali pusat yang pendek, kejadian solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya, ketuban pecah dini, polihidramnion, dekompresi uterus mendadak, anomali uterus atau tumor uterus, hipertensi kronis atau hipertensi yang ditimbulkan oleh kehamilan, tekanan pada vena cava inferior akibat uterus yang membesar, merokok, penggunaan kokain, dan defisiensi gizi.
Perdarahan pada solusio plasenta dapat disebabkan oleh pembuluh arteri spiralis desidua yang ruptur sehingga menyebabkan hematom retroplasenta. Semakin meluas hematom maka semakin banyak arteri yang ruptur sehingga akan lebih banyak bagian plasenta yang terlepas. Karena uterus tetap teregang akibat adanya hasil pembuahan, organ ini tidak mampu mengadakan kontraksi yang memadai guna menekan pembuluh darah yang ruptur yang menyuplai kebutuhan nutrisi dan oksigen bagi plasenta tersebut. Darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban dari dinding uterus dan akhirnya akan terlihat dari luar atau tetap tertahan seluruhnya di dalam uterus. Darah dapat juga mengadakan ekstravasasi di antara serabut-serabut otot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu dan disebut uterus Couvelaire.
Perdarahan yang tertahan atau tersembunyi dapat terjadi bila: (1) terdapat efusi darah di balik plasenta tetapi tepi plasenta masih melekat, (2) plasenta sudah terlepas sama sekali tetapi selaput ketuban masih melekat pada dinding uterus, (3) darah mengalir masuk ke dalam rongga amnion setelah menimbulkan ruptur selaput ketuban, dan (4) kepala janin begitu rapat dengan segmen bawah uterus sehingga darah tidak bisa melewatinya.

Tabel 1. Tiga Kelas Solusio Plasenta Berdasarkan Gejala dan Tanda
Kelas
Gejala
Kelas 0 – asimtomatik
Gejala tidak ada
Diagnosis dibuat dengan menemukan pembekuan darah yang terorganisasi atau bagian yang terdepresi pada plasenta yang sudah dilahirkan
Kelas 1 – ringan
(Rupturan sinus marginalis atau sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak)
Tidak ada atau sedikit perdarahan dari vagina yang warnanya kehitam-hitaman
Rahim yang sedikit nyeri atau terus menerus agak tegang
Tekanan darah dan frekuensi nadi ibu yang normal
Tidak ada koagulopati
Tidak ada gawat janin
Kelas 2 – sedang
(Plasenta lepas lebih dari 1/4-nya tetapi belum sampai 2/3 luas permukaannya)
Tidak ada hingga adanya perdarahan dari vagina dalam jumlah yang sedang
Nyeri pada uterus yang bersifat sedang hingga berat, bisa disertai kontraksi tetanik. Nyeri perut dirasakan terus menerus, uterus teraba tegang dan nyeri tekan
Takikardi pada ibu dengan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan frekuensi nadi. Ibu dapat jatuh ke dalam keadaan syok
Gawat janin
Hipofibrinogenemia (50 – 250 mg/dL), mungkin terjadi kelainan pembekuan darah
Kelas 3 – berat
(Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 luas permukaannya)
Tidak ada hingga perdarahan vagina yang berat
Kontraksi tetanik uterus yang sangat nyeri
Syok pada ibu
Hipofibrinogenemia (<150 mg/dL)
Koagulopati
Kematian janin

BAB II Masalah Pokok
Pasien perempuan, 26 tahun datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Pasien dirujuk oleh bidan dengan keterangan denyut jantung janin tidak teratur. Pasien mengaku hamil 9 bulan. Antenatal care (ANC) tidak dilakukan teratur di bidan. Selama ANC dikatakan tidak ada kelainan. Enam jam SMRS, keluar darah dari kemaluan berupa bercak-bercak disertai nyeri di perut kiri bagian bawah. Keluar darah lendir (-), ari-ari (-), mulas (-). Gerak janin dirasakan terakhir oleh pasien 3 jam SMRS. Saat sampai di IGD RSCM, pasien terasa sangat lemas dan perut terasa tegang.
Dari pemeriksaan fisis didapatkan, pasien compos mentis, tampak sakit berat dan pucat dengan tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 132x/menit, frekuensi napas 20x/menit dan suhu 36,5 °C. Konjungtiva pucat, abdomen tegang dan terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah, akral dingin.
Status obstetrikus didapatkan tinggi fundus uteri 32 cm, kepala masih di atas pintu atas panggul, taksiran berat janin 2900 gram, uterus tegang, dan tidak ditemukan denyut jantung janin. Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, didapatkan anemia (Hb 6,8 g/dL), leukositosis (22.300/uL), memanjangnya PT dan APTT, turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).
Dari hasil USG, tampak janin presentasi kepala tunggal hidup, tidak terdapat denyut jantung janin. Diameter biparietal 92 mm, abdominal circumference 300 mm, fetal length 69 mm, dan taksiran berat janin 2900 g. Plasenta terletak di fundus dan tampak perdarahan retroplasenta dengan ukuran 7 x 7 cm. Kesan: sesuai hamil aterm, intrauterine fetal death (IUFD), dan solutio plasenta.
Terminasi kehamilan pun dilakukan dengan sectio cesarea cito.

BAB III PENATALAKSANAAN
            7 LANGKAH VARNEY

1. PENGUMPULAN DATA
A. Identitas
1. Biodata/identitas Pasien                
Nama                                                   : Ny. N                       
Umur                                                   : 26 Tahun                              
Jenis Kelamin                                      : Perempuan                           
Pendidikan                                          : SMA’
Pekerjaan                                             : IRT (Ibu Rumah Tangga)
Status                                                  : Menikah
Alamat Kantor                                                : Tidak ada
Alamat Rumah                                    : Kp. Sawah Kaum RT 03/02 Ciomas

B. Anamnesa
Anamnesa pada tanggal          : 24 Juli 2009
Pukul                                       : 10.00 WIB
1.      Alasan kunjungan ulang ini    
Kunjungan pertama                 : Tidak ingat
Kunjungan ulang                     : 24 Juli2009
2.      Riwayat kehamilan
2.1  Riwayat menstruasi
HPHT                                : 17 Oktober 2008 (pasti, 7 hari, 1600 ml)
Haid sebelumnya              : 17 September 2008
Konsistensi                        : merah kehitaman
2.2  Tanda-tanda kehamilan (trimester 1)
Hasil tes kehamilan
Tanggal                             : 19 November 2008
Hasil                                  : Positif hamil
2.3  Pergerakan fetus dirasakan pertama kali :
Pergarakan fetus selama 24 jam terakhir : 3 jam sebelum masuk rumah sakit
            2.4 Keluhan yang dirasakan
                  Rasa lelah                                                              : Ada
                  Mual dan muntah yang lama                                : Tidak ada
                  Panas menggigil                                                    : Tidak ada
                  Sakit kepala berat/terus menerus                          : Tidak ada
                  Pengelihatan kabur                                               : Tidak ada
                  Rasa nyeri waktu BAB                                         : Tidak ada
                  Rasa gatal pada daerah  vulva atau sekitarnya     : Tidak ada
                  Pengaluaran cairan /darah pervaginam                 : Ada
                  Nyeri, kemerahan, tegang pada vulva                  : Tidak ada
                  Edema                                                                   : Tidak ada
2.5  Diet/makanan
Makanan sehari-hari                                              : Nasi dan lauk pauk
Perubahan makanan yang dialami             : Tidak ada
2.6  Pola eliminasi
Kebiasaan BAB                                                    : 1x/hari
Konsentrasi                                                           : Lunak
Warna                                                                    : Kuning
Bau                                                                        : Khas Feses
Kebiasaan BAB                                                    : 4-5x/hari
Konsentrasi                                                           : Cair
Warna                                                                    : Kuning
Bau                                                                        : Khas urine
2.7  Aktifitas sehari-hari
Tidur siang                                                            : 2jam/hari
Tidur malam                                                          : 8jam/hari
Apa yang menolong saat tidur                              : Tidak ada
2.8  Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu         : Tidak ada
2.9  Riwayat kesehatan                                                : Tidak ada
22.10 Perilaku kesehatan
                        Penggunaan alcohol                                        : Tidak ada
                        Obat-obatan yang sering digunakan               : Tidak ada
                        Merokok/makan sirih                                      : Tidak ada
                        Irigasi vagina/ganti pakaian dalam                  : 3x/hari
  1. Riwayat Sosial
3.1 Apakah kehamilan ini direncananakan                 : Ya
3.2 Apakah jenis kelamin yang diharapkan                : Laki-laki
3.3 Status perkawinan            
         Jumlah                                                                : 1 kali
         Lama perkawinan                                               : 2 tahun
3.4 Susunan keluarga yang pernah tinggal serumah
No.
Jenis
Kelamin
Umur
(tahun)
Hgaubungan
Keluarga
Pendidikan
Pekerjaan
Ket.
1.
Laki-laki
30 tahun
Suami
S1
Acounting

2.
Permpuan
26 tahun
Istri
SMA
IRT


3.5 Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas:
            Tidak ada
3.6 Riwayat kesehatan keluarga                                 : Tidak ada
Ibu mengeluh perut terasa tegang, keluar bercak darah dan nyeri perut kiri bagian bawah
-          Didapatkan hasil pemeriksaan:
·         Keadaan umum/kesadaran                        : Lemah, Compos mentis
            Penampilan                                          : Rapi
            BB : 68 kg                               TB       : 158 cm
Tekanan darah                                                 : 100/60 mmHg
Pernafasan                                                      : 20 x/menit
Nadi                                                               : 132 x/menit
Suhu                                                               : 36˚C
Konjungtiva: pucat
Abdomen: tegang dan terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah, akral dingin.
·         Status obstetrikus: -TFU 32 cm, kepala masih ada diatas pintu atas panggul
-Taksiran berat badan janin 2900 gr
- Tidak ditemukan denyut jantung janin
Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman.
·         Pemeriksaan laboratorium
- Anemia (Hb 6,8 g/dL)
- Leukositosis (22.300/uL)
- Memanjangnya PT dan APTT
- Turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L)
- Meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).
·         Pemeriksaan USG
Tampak janin presentasi kepala tunggal hidup, tidak terdapat denyut jantung janin. Diameter biparietal 92 mm, abdominal circumference 300 mm, fetal length 69 mm, dan taksiran berat janin 2900 g. Plasenta terletak di fundus dan tampak perdarahan retroplasenta dengan ukuran 7 x 7 cm. Kesan: sesuai hamil aterm, intrauterine fetal death (IUFD), dan solutio plasenta.

2. Interpretasi Data
                  a. Menentukan Diagnosa:
                        G1 P0 A0, hamil 39 minggu dengan Solusio Plasenta.
                        Dasar:
                        DS: - Ibu mengatakan hamil anak pertama
-          HPHT 17 Oktober 2008
                        DO: - Hasil pemeriksaan
Leopold I: TFU 32 cm. Kepala janin masih diatas PAP dengan cirri-ciri kepala keras, bundar dan melenting. Bokong berada diatas dengan cirri-cira lunak, kurang bundar dan kurang melenting.
Leopold II: punggung janin ada di sebelah kiri dengan cirri-ciri keras dan panjang seperti papan
                        Leopold III:
                        Leopold IV: 5/5 bagian terbawah janin masih teraba di simpisis pubis.
-          Tidak terdengar DJJ
                  b. Diagnosa Janin:
                        Janin tunggal, hidup, intra uterin, taksiran berat badan janin 2900 gr
                  c. Menentukan Masalah
- Ibu mengeluh perut terasa tegang, keluar bercak darah dan nyeri perut kiri bagian bawah
                  d. Menentukan Kebutuhan
- Pemberian nutrisi yang baik berupa makanan yang tinggi serat dan karbohidrat secukupnya.
                       
3.      Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Tidak ada kemungkinan diagnose masalah yang lain.
4.      Identifikasi Kebutuhan akan Tindakan Segera
Bidan Mandiri:
·                     Memeriksa tanda-tanda vital
·                     Melakukan pemeriksaan fisik head to toe
·                     Memasang infuse
Bidan sebagai Tim Medis di RS:
·         Memberikan transfuse darah
·         Menyiapkan persalinan dengan secsio sesaria
5.                  Perencanaan
Bidan Mandiri:
·         Memeriksa tanda-tanda vital
·         Memasang infuse
·         Menyiapkan surat rujukan ke Rumah Sakit
Bidan sebagai Tim Medis di RS:
·         Memperbaiki kesadaran umum
·         Memberikan cairan infuse
·         Pemberian tranfusi darah
·         Pemasangan kateter
·         Membantu dokter obgin  untuk mempersiapan kelahiran dengan seksio sesaria
6.      Pelaksanaan
Bidan Mandiri:
·         Pemasangan kateter
·         Memperbaiki keadaan umum ibu dengan memberikan cairan infuse berupa NaCl atau Ringer Laktat
Bidan sebagai Tim Medis di Rs:
·         Pemberian transfuse darah lengkap untuk mengganti sel darah merah yang telah keluar
·         Mendampingi dokter obgin untuk melakukan persalinan segera dengan seksio sesaria dan lahirkan plasenta segera setelah kondisi ibu stabil.
7.      Evaluasi
·         Mengamati prubahan yang terjadi pada  ibu setelah dilakukannya asuhan
Memperbaiki asuhan yang kurang memuaskan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar