Jumat, 30 Desember 2011

Makalah Atonia Uteri


BAB 1
PENDAHULUAN

Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini.
Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak berkontraksi.
Atonia Uteri terjadi bila miometrium tidak berkontraksi. Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar. Atonia merupakan penyebab tersering perdarahan postpartum, sekurang-kurangnya 2/3 dari semua kejadian postpartum disebabkan oleh atonia uteri. Upaya penanganan perdarahan postpartum disebabkan atonia uteri, harus dimulai dengan mengenal ibu yang memiliki kondisi yang beresiko terjadinya atonia uteri. Kondisi ini mencakup :
·                     Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang melebihi kondisi normal, seperti
·                     pada ; polihidramnion, kehamilan kembar, makrosomia
·                     Persalinan lama
·                     Persalinan terlalu cepat
·                     Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin
·                     Infeksi intrapartum
·                     Paritas tinggi
Jika seorang wanita memiliki salah satu dari kondisi –kondisi yang beresiko ini, maka penting bagi penolong persalinan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya atonia uteri postpartum. Meskipun demikian 20 % atonia uteri post partum dapat terjadi pada ibu tanpa factor – factor risiko ini.


BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
  • Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir). (JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta ; 2002)
B. ETIOLOGI
1. overdistention uterus seperti: gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.
2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua
3. Multipara dengan jarak keahiran pendek
4. Partus lama / partus terlantar
5. Malnutrisi
6. Dapat juga karena salah penanganan dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari uterus.
C. MANIFESTASI KLINIS
Ý Uterus tidak berkontraksi dan lembek
Ý Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer)
D. PENCEGAHAN ATONIA UTERI
Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.
Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti sebagai uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit. Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin bolus IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sesar. Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.
E. MANAJEMEN ATONIA UTERI
1. Resusitasi
Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.
2. Masase dan kompresi bimanual
Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan menghentikan perdarahan.
Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (max 15 detik)
Ä Jika uterus berkontraksi
Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera
Ä Jika uterus tidak berkontraksi maka :
­ Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & lobang serviks
­ Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong
­ Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
ó Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.
ó Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI
Jika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empat
Jika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera
3. Uterotonika
Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyababkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.
Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.
Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan disfungsi hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka kesuksesan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan penggunaan uterotonika ini untuk mengatasi perdarahan masif yang terjadi.
4. Uterine lavage dan Uterine Packing
Jika uterotonika gagal menghentikan perdarahan, pemberian air panas ke dalam cavum uteri mungkin dapat bermanfaat untuk mengatasi atonia uteri. Pemberian 1-2 liter salin 47°C-50°C langsung ke dalam cavum uteri menggunakan pipa infus. Tangan operator tidak boleh menghalangi vagina untuk memberi jalan salin keluar.
Penggunaan uterine packing saat ini tidak disukai dan masih kontroversial. Efeknya adalah hiperdistended uterus dan sebagai tampon uterus.
Prinsipnya adalah membuat distensi maksimum sehingga memberikan tekanan maksimum pada dinding uterus. Segmen bawah rahim harus terisi sekuat mungkin, anestesi dibutuhkan dalam penanganan ini dan antibiotika broad-spectrum harus diberikan. Uterine packing dipasang selama 24-36 jam, sambil memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah masuk. Uterine packing diberikan jika tidak tersedia fasilitas operasi atau kondisi pasien tidak memungkinkan dilakukan operasi.
5. Operatif
Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan benang absorbable yang sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi dengan melewatkan jarum 2-3 cm medial vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian avaskular ligamentum latum lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya vasa uterina dan ligasi harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika langkah diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina bagian bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau unilateral ligasi vasa ovarian.
• Ligasi arteri Iliaka Interna
Identiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah ligasi.
Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.
• Teknik B-Lynch
Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.
• Histerektomi
Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi perdarahan pospartum masif yang membutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai 7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan vaginal.



KOMPRESI BIMANUAL UTERUS ATONI
Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan telanjang yang telah dicuci
Teknik :
Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan
  1. Eksplorasi dengan tangan kiri
Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina
  1. Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas fundus uteri dan menangkap uterus dari belakang atas
  2. Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan luar
Ia tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah aferen sehingga menyempitkan lumennya.
Kompresi uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.
Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.
Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan tidak berhenti setelah kompresi bimanual, maka histerektomi tetap merupakan tindakan terakhir!






















DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam. Sinopsis obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.
Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC, 1998.
Prawirhadjo, Sarwono . Ilmu Kebianan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2008, hal;588-595

Macam-Macam Refleks Pada Bayi


ANEKA REFLEKS 

Ada banyak macam refleks pada bayi, tapi umumnya yang dikenal ada 9 refleks.
1. refleks Moro : seperti gerakan orang kaget. “Bisa karena mendengar suara yang mengagetkan, bisa juga secara spontan tanpa ada stimulan apa pun,” jelas Retno.
2. refleks sucking (mengisap) dan refleks rooting (memalingkan muka bila pipinya disentuh). Kedua refleks ini hampir berbarengan terjadinya. “Jika ibu menyentuhkan tangannya ke pipi bayi, maka si bayi akan berpaling dan langsung keluar refleks mengisapnya, yaitu mengisap puting si ibu.” Refleks ini sering dikatakan, refleks untuk pertahanan diri. Dalam arti, untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan mengisap susu.
3. refleks blinking :Jika bayi terkena sinar atau hembusan angin, matanya akan menutup atau dia akan mengerjapkan matanya.
4. refleks babinski:Bila telapak kakinya disentuh, bayi akan menarik kakinya atau jari-jemarinya mengembang.” Selain itu, bila kita pegang tubuhnya dengan posisi berdiri atau diangkat badannya, tampak kedua kakinya seperti bergerak menjejak-jejak, disebut refleks stepping. Sementara bila telapak tangannya disentuh.
 5.refleks grasping:bayi akan menggenggam
6. refleks swimming (seperti gerakan berenang).
7.reflek tonik neck :Sebaliknya, jika bayi ditelentangkan, akan tampak gerakan berlawanan arah antara kepala dan tubuhnya. Maksudnya, bila kepalanya menengok ke arah kanan, maka bagian tubuhnya seperti bergerak ke arah sebaliknya dengan kedua tangan biasanya menggenggam.
8 refleks-refleks kecil seperti coughing, yaitu refleks batuk. “Mungkin awalnya bukan merupakan refleks, tapi penelitian berkembang dan akhirnya dianggap refleks
9.refleks yawning, yakni refleks seperti menjerit kalau ia merasa lapar, biasanya kemudian disertai dengan tangisan.

Makalah Gemeli


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kemungkinan suatu kehamilan kembar dapat di ketahui sejak usia kehamilan 5 minggu,dengan melihat sejumlah kantung gestasidi dalam kavum uteri.diagnosis definitive kehamilan kembar baru boleh di tegakkan bila terlihat lebih dari satu mudigah yang menujukkan aktivitas denyut jantung.








BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Definisi
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda/ gemelli (2 janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), Quintiplet ( 5 janin ) dan seterusnya dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang sesuai dengan hokum Hellin. Hukum Hellin menyatakan bahwa perbandingan antara kehamilan ganda dan tunggal adalah 1: 89, untuk triplet 1 : 892, untuk kuadruplet 1 : 893, dan seterusnya. Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter dan masyarakat pada umumnya. Morbiditas dan mortalitas mengalami peningkatan yang nyata pada kehamilan dengan janin ganda, oleh karena itu mempertimbangkan kehamilan ganda sebagai kehamilan dengan komplikasi bukanlah hal yang berlebihan.

B.     Etiologi
1.      Kembar Monozigotik. Monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah.
2.      Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut:
        Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka dua embrio, dua amnion serta dua chorion akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan di chorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang menyatu.
        Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan chorion bersama, dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monochorionik.
        Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk, maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan kembar monoamnionik, monochorionik.
        Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu.
3.      Kembar Dizigot. Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas.

C.     Patofisiologi
Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi dan seringkali terjadi putus prematurus. Lama kehamilan kembar dua rata-rata 260 hari, triplet 246 hari dan kuadruplet 235 hari. Berat lahir rata-rata kehamilan kembar ± 2500gram, triplet 1800gram, kuadriplet 1400gram. Penentuan zigositas janin dapat ditentukan dengan melihat plasenta dan selaput ketuban pada saat melahirkan. Bila terdapat satu amnion yang tidak dipisahkan dengan korion maka bayi tesebut adalah monozigotik. Bila selaput amnion dipisahkan oleh korion, maka janin tersebut bisa monozigotik tetapi lebih sering dizigotik.
Pada kehamilan kembar dizigotik hampir selalu berjenis kelamin berbeda. Kembar dempet atau kembar siam terjadi bila hambatan pembelahan setelah diskus embrionik dan sakus amnion terbentuk, bagian tubuh yang dimiliki bersama dapat. Secara umum, derajat dari perubahan fisiologis maternal lebih besar pada kehamilan kembar dibanding dengan kehamilan tunggal. Pada trimester 1 sering mengalami nausea dan muntah yang melebihi yang dikarateristikan kehamilan-kehamilan tunggal. Perluasan volume darah maternal normal adalah 500 ml lebih besar pada kehamilan kembar, dan rata-rata kehilangan darah dengan persalinan vagina adalah 935 ml, atau hampir 500 ml lebih banyak dibanding dengan persalinan dari janin tunggal.
Massa sel darah merah meningkat juga, namun secara proporsional lebih sedikit pada kehamilan-kehamilan kembar dua dibanding pada kehamilan tunggal, yang menimbulkan” anemia fisiologis” yang lebih nyata. Kadar haemoglobin kehamilan kembar dua rata-rata sebesar 10 g/dl dari 20 minggu ke depan. Sebagaimana diperbandingkan dengan kehamilan tunggal, cardiac output meningkat sebagai akibat dari peningkatan denyut jantung serta peningkatan stroke volume. Ukuran uterus yang lebih besar dengan janin banyak meningkatkan perubahan anatomis yang terjadi selama kehamilan. Uterus dan isinya dapat mencapai volume 10 L atau lebih dan berat lebih dari 20 pon. Khusus dengan kembar dua monozygot, dapat terjadi akumulasi yang cepat dari jumlah cairan amnionik yang nyata sekali berlebihan, yaitu hidramnion akut.
Dalam keadaan ini mudah terjadi kompresi yang cukup besar serta pemindahan banyak visera abdominal selain juga paru dengan peninggian diaphragma. Ukuran dan berat dari uterus yang sangat besar dapat menghalangi keberadaan wanita untuk lebih sekedar duduk. Pada kehamilan kembar yang dengan komplikasi hidramnion, fungsi ginjal maternal dapat mengalami komplikasi yang serius, besar kemungkinannya sebagai akibat dari uropati obstruktif. Kadar kreatinin plasma serta urin output maternal dengan segera kembali ke normal setelah persalinan. Dalam kasus hidramnion berat, amniosintesis terapeutik dapat dilakukan untuk memberikan perbaikan bagi ibu dan diharapkan untuk memungkinkan kehamilan dilanjutkan.
Berbagai macam stress kehamilan serta kemungkinan-kemungkinan dari komplikasi-komplikasi maternal yang serius hampir tanpa kecuali akan lebih besar pada kehamilan kembar.

D.    Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan dengan berhubungan dengan dugaan kehamilan ganda, yaitu :
1.      Anamnesis
Anamnesis yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis kehamilan kembar adalah riwayat adanya keturunan kembar dalam keluarga, telah mendapat pengobatan infertilitas, adanya uterus yang cepat membesar: fundus uteri > 4 cm dari amenorea, gerakan anak yang terlalu ramai dan adanya penambahan berat badan ibu menyolok yang tidak disebabkan obesitas atau edema.
2.      Pemeriksaan klinik gejala-gejala dan tanda-tanda
Adanya cairan amnion yang berlebihan dan renggangan dinding perut menyebabkan diagnosis dengan palpasi menjadi sukar. Lebih kurang 50 % diagnosis kehamilan ganda dibuat secara tepat jika berat satu janin kurang dari 2500 gram, dan 75 % jika berat badan satu janin lebih dari 2500 gram. Untuk menghindari kesalahan diagnosis, kehamilan ganda perlu dipikirkan bila dalam pemeriksaan ditemukan hal-hal berikut ; besarnya uterus melebihi lamanya amenorea, uterus tumbuh lebih cepat dari kehamilan normal, banyak bagian kecil teraba, teraba tiga bagian besar, dan teraba dua balotemen, serta terdengar 2 DJJ dengan perbedaan 10 atau lebih.
3.      Pemeriksaan USG
Berdasarkan pemeriksaan USG dapat terlihat 2 bayangan janin atau lebih dengan 1atau 2 kantong amnion. Diagnosis dengan USG sudah setelah kehamilan 6-8 minggu dapat menentukan diagnosis akurat jumlah janin pada uterus dari jumlah kantong gestasional yang terlihat.
4.      Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan dengan rotgen sudah jarang dilakukan untuk mendiagnosa kehamilan ganda karena cahaya penyinaran.

E.     Diagnosis
Diagnosis pasti kehamilan kembar ditentukan dengan teraba dua kepala, dua bokong, terdengar dua denyut jantung janin, dan dari pemeriksaan ultrasonografi.
Diagnosis diferensial ada 4:
• Kehamilan tunggal dengan janin besar
• Hidramnion
• Molahidatidosa
• Kehamilan dengan tumor

F.      Komplikasi
Komplikasi pada ibu dan janin pada kehamilan kembar lebih besar dibandingkan kehamilan tunggal. Angka kematian perinatal pada kehamilan kembar cukup tinggi, dengan kembar monozigotik 2,5 kali angka kematian kembar dizigotik. Resiko terjadinya abortus pada salah satu fetus atau keduanya tinggi. Pada trisemester pertama kehamilan reabsorbsi satu janin atau keduanya kemungkinan terjadi.
Anemia sering ditemukan pada kehamilan kembar oleh karena kebutuhan nutrisi yang tinggi serta peningkatan volume plasma yang tidak sebanding dengan peningkatan sel darah merah mengakibatkan kadar hemoblobin menjadi turun, keadaan ini berhubungan dengan kejadian edema pulmonum pada pemberian tokolitik yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan kembar. Angka kejadian persalinan preterm ( umur kehamilan kurang 37 minggu ) pada kehamilan kembar 43,6 % dibandingkan dengan kehamilan tunggal sebesar 5,6 %.1,3,4 Frekuensi terjadinya hipertensi yang diperberat kehamilan, preklamsia dan eklamsia meningkat pada kehamilan kembar. Pendarahan antepartum oleh karena solutio plasenta disebabkan permukaan plasenta pada kehamilan kembar jelek sehingga plasenta mudah terlepas. Kematian satu janin pada kehamilan kembar dapat terjadi, penyebab kematian yang umum adalah saling membelitnya tali pusat. ( Benirschke, 1983 ). Bahaya yang perlu dipertimbangkan pada kematian satu janin adanya koagulopati konsumtif berat yang dapat mengakibatkan terjadinya disseminated intravascular coagulopathy.
Kelainan kongenital mayor pada kehamilan kembar meningkat sesuai dengan jumlah kembarnya. Pada kembar triplet, angka kelainan kongenital mayor lebih tinggi dibandingkan kembar dua. Kelainan jantung pada kembar monozigotik 1 : 100 kasus. Perdarahan postpartum dalam persalinan kembar disebabkan oleh overdistension uterus, tendesi terjadinya atonia uterus dan berasal dari insersi plasenta.
Beberapa keadaan yang menyertai kehamilan kembar meliputi :
1.      Aborsi
Aborsi spontan lebih besar kemungkinannya terjadi pada kehamilan kembar. Kembar dua monochorial jauh lebih banyak dibanding kembar dichorial, yang mengimplikasikan monozygot sebagai faktor resiko untuk abortus spontan.
2.      Berat Badan Lahir Rendah.
Kehamilan janin kembar lebih besar kemungkinannya dikarakterisasikan dengan berat badan lahir rendah dibandingkan dengan kehamilan tunggal, paling sering disebabkan oleh karena pertumbuhan janin yang terbatas serta persalinan preterm. Secara umum, semakin besar jumlah janin, semakin besar derajat dari keterbatasan pertumbuhan. Dalam kehamilan dizygotik, perbedaan ukuran yang menyolok biasanya ditimbulakan dari plasentasi yang tidak sama, dengan satu tempat plasenta menerima suplai darah yang lebih baik dibandingkan yang lainnya, namun dapat juga merefleksikan potensial-potensial pertumbuhan genetik yang berbeda. Dalam trisemester III, semakin besar massa janin semakin bertambahnya maturasi plasenta serta insufisiensi plasenta relatif. Perbedaan ukuran dapat juga disebabkan oleh karena abnormalitas umbilicus. Derajat pembatasan pertumbuhan dalam kembar dua monozygot kemungkinannya lebih besar dibandingkan pada pasangan dizygotik.
3.      Durasi Kehamilan.
Pada saat jumlah dari janin meningkat, durasi dari kehamilan menurun. Kira-kira separuh dari kembar dilahirkan pada 36 minggu atau kurang dan persalinan sebelum genap bulan merupakan alasan utama untuk peningkatan resiko morbiditas dan mortalitas neonatal pada kembar. Pembatasan pertumbuhan serta morbiditas yang berhubungan, meningkat secara bermakna pada kembar yang dilahirkan antara minggu ke 39 dan 41 dibandingkan dengan persalinan pada 38 minggu atau kurang. Kehamilan kembar dua 40 minggu atau lebih harus dianggap posterm. Hal ini didasarkan pada pengamatan bahwa bayi-bayi kembar dua lahir mati yang dilahirkan saat 40 minggu atau lebih memiliki gambaran-gambaran yang sama dengan bayi tunggal postmatur.11

G.    Penatalaksanaan
Untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas perinatal pada kehamilan kembar, perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya komplikasi seawal mungkin. Diagnosis dini kehamilan kembar harus dapat ditegakkan sebagai perencanaan pengelolaan kehamilan. Mulai umur kehamilan 24 minggu pemeriksaan antenatal dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah usia kehamilan 36 minggu pemeriksaan dilakukan tiap minggu. Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah keplasenta meningkat agar pertumbuhan janin baik.
Kebutuhan kalori, protein, mineral, vitamin dan asam lemak esential harus cukup oleh karena kebutuhan yang meningkat pada kehamilan kembar. Kebutuhan kalori harus ditingkatkan sebesar 300 kalori perhari. Pemberian 60 sampai 100 mg zat besi perhari, dan 1 mg asam folat diberikan untuk menambah zat gizi lain yang telah diberikan. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui adanya diskordansi pada kedua janin pengukuran lingkar perut merupakan indikator yang sensitif dalam menentukan diskordansi. Pada kehamilan kembar terjadi peningkatan risiko persalinan preterm, sehingga dilakukan pemberian kortikosteroid diperlukan untuk pematangan paru berupa betamethsone 12 mg/hari , untuk 2 hari saja. Bila tak ada betamethasone dapat diberikan dexamethasone serta pemberian tokolitik.
A.    Percepatan Pematangan Fungsi Paru
        Kortikosteroid tidak hanya mempengaruhi pematangan paru saja, melainkan juga merangsang persalinan. Jenssen dan Wright (1977), Mati dkk (1973) melaporkan bahwa kortikosteroid dapat menginduksi persalinan pada manusia lebih dari 20 tahun yang lalu. Selain itu, Elliot dan Radin (1995) mengkonfirmasi bahwa kortikosteroid menginduksi kontraksi uterus dan persalinan preterm pada manusia.
        Penelitian-penelitian yang dimulai tahun 1970an, yang menindaklanjuti perkembangan anak-anak yang diberi terapi antenatal kortikosteroid sampai umur 12 tahun tidak memperlihatkan efek buruk dibidang perkembangan saraf jangka panjang. Hal ini diukur berdasarkan adanya gangguan belajar, perilaku, dan motorik atau sensorik (National Institute of Health Consensus Development Panel, 1995). Namun terdapat efek jangka pendek pada ibu, antara lain edema paru, infeksi dan pengendalian glukosa yang lebih sulit pada ibu diabetik. Tidak dilaporkan adanya efek jangka panjang pada ibu.
B.     Tokolitik
Tokolitik berguna untuk mengurangi kontraksi uterus dan menahan pembukaan serviks. Pada pemberian tokolitik, pasien harus dirawat di rumah sakit untuk observasi dan tirah baring.
 Pemberian tokolitik yang dianjurkan meliputi:
a.       Nifedipine 10 mg, diulang tiap 30 menit, maksimum 40 mg/6 jam. Umumnya hanya diperlukan 20 mg, dan dosis perawatan 3 x 10mg.
b.      B-mimetik : terbutalin atau salbutamol.
c.       Penanganan Persalinan
d.      Persiapan perawatan bayi prematur dan keadaan kemungkinan perdarahan postpartum harus tersedia dalam pertolongan persalinan kembar. Kala I diperlakukan seperti biasa bila janin letak memanjang. Episiotomi mediolateral dilakukan untuk mengurangi trauma kepala pada janin prematur. Setelah janin pertama lahir, presentasi janin kedua, dan taksiran berat janin harus segera ditentukan dengan pemeriksaan bimanual. Biasanya dalam 10 sampai 15 menit his akan kuat lagi, bila his tidak timbul dalam 10 menit diberikan 10 unit oksitosin yang diencerkan dalam infus untuk menstimulasi aktifitas miometrium. Apabila janin kedua letak memanjang, tindakan selanjutnya adalah melakukan pecah ketuban dengan mengalirkan ketuban secara perlahan-lahan. Penderita dianjurkan mengejan atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus agar bagian bawah janin masuk dalam panggul, dan pimpinan persalinan kedua seperti biasa.1 Apabila janin kedua letak lintang dengan denyut jantung janin dalam keadaan baik, tindakan versi luar intrapartum merupakan pilihan. Setelah bagian presentasi terfiksasi pada pintu atas panggul, selaput ketuban dipecah selanjutnya dipimpin seperti biasanya. Bila janin kedua letak lintang atau terjadi prolap tali pusat dan terjadi solusio plasenta tindakan obsterik harus segera dilakukan, yaitu dengan dilakukan versi ekstraksi pada letak lintang dan ekstraksi vakum atau forseps pada letak kepala.
e.       Seksiosesarea dilakukan bila janin pertama letak lintang, terjadi prolap tali pusat, plasenta previa pada kehamilan kembar atau janin pertama presentasi bokong dan janin kedua presentasi kepala, dikhawatirkan terjadi interloking dalam perjalanan persalinannya. Sebaiknya pada pertolongan persalinan kembar dipasang infus profilaksis untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partumnya. Pada kala empat diberikan sintikan 10 unit sintosinon ditambah 0,2 mg methergin intravena.
f.       Kemungkinan lain pada persalinan kembar dengan usia kehamilan preterm dengan janin pertama presentasi bokong adalah terjadinya aftercoming head oleh karena pada janin prematur lingkar kepala jauh lebih besar dibandingkan lingkar dada, disamping itu ukuran janin kecil sehingga ektremitas dan tubuh janin dapat dilahirkan pada dilatasi servik yang belum lengkap, prolapsus tali pusat juga sering terjadi pada persalinan preterm. Apabila kemungkinan-kemungkinan ini dapat diprediksikan, tindakan seksiosesarea adalah tindakan yang bijaksana.

Prinsip penanganan kehamilan ganda.
1.    Bayi I
        Cek persentasi
-          Bila verteks lakukan pertolongan sama dengan presentasi normal dan lakukan
        Monitoring dengan partograf
-          Bila persentasi bokong, lakukan pertolongan sama dengan bayi tunggal presentasi bokong
-          Bila letak lintang lakukan seksio sesaria.
        Monitoring janin dengan auskurtasi berkala DJJ
        Pada kala II beri oksitosis 2,5 IU dalam 500 ml dekstrose 5% atau ringer laktat/ 10 tts / mt.
2.    Bayi II
        Segera setelah kelahiran bayi I
- Lakukan palpasi abdomen untuk menentukan adanya bayi selanjutnya
- Bila letak lintang lakukan versi luar
- Periksa DJJ
- Lakukan pemeriksaan vaginal untuk : adanya prolaps funikuli, ketuban pecah atau intak, presentasi bayi.
        Bila presentasi vertex
- Bila kepala belum masuk, masukan pada PAP secara manual
- Ketuban dipecah
- Periksa DJJ
- Bila tak timbul konteraksi dalam 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai his adekuat
- Bila 30 menit bayi belum lahir lakukan tindakan menurut persyaratan yang ada (vakum,
forceps, seksio)
        Bila presentasi bokong
- Lakukan persalinan pervaginan bila pembukaan lengkap dan bayi tersebut tidak lebih
besar dari bayi I
- Bila tak ada konteraksi sampai 10 menit, tetesan oksidosin dipercepat sampai his adekuat
- Pecahkan ketuban
- Periksa DJJ
- Bila gawat, janin lakukan ekstraksi
- Bila tidak mungkin melakukan persalinan pervaginam lakukan seksio secarea.
        Bila letak lintang
- Bila ketuban intak, lakukan versi luar
- Bila gagal lakukan seksio secarea
        Pasca persalinan berikan oksitosin drip 20 IU dalam 1 liter cairan 60 tetes/menit atau berikan ergometrin 0,2 mg IM 1 menit sesudah kelahiran anak yang terakhir dan lakukan manajemen aktif kala II. Untuk mengurangi perdarahan pasca persalinan.
BAB III
PENGKAJIAN KASUS

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

1. DATA SUBJEKTIF (S)

A. Identitas Pasien
Nama           : Ny.W                                               Nama Suami   : Tn.D
Umur           :27tahun                                             Umur              :30tahun
Suku            : Jawa                                                 Suku / Bangsa: Jawa
Agama         : Islam                                                Agama            : Islam
Pendidikan  :SMA                                                 Pendidikan     :STM
Pekerjaan     : Ibu Rumah Tangga                          Pekerjaan        : swasta
Alamat Rumah: jl.kebagusan 1 5/4                        Alamat Rumah: Jl. Kebagusan 5/4
Telp           : -                                                          Telp                : -
Alamat Kantor: -                                                    Alamat Kantor: -
Telp           : -                                                          Telp                : -
                       

B. Anamnesa pada tanggal: 03-11-2010               Pukul: 09.00 WIB
      Oleh: Annisa Rachmi Nur
1.      Alasan kunjungan ini:
Kunjungan pertama     : -                     Rutin : √
Kunjungan ulang         : √                    Keluhan : tidak ada

2.      Riwayat Kehamilannya
2.1  Riwayat Menstruasi
Hari pertama haid terakhir: 27-3-2010 pasti/tidak, lamanya: 7 hari, banyaknya : 3 kali ganti pembalut sehari
Haid sebelumnya tanggal: 27-02-2010  lamanya: 7 hari
Banyaknya:  3 kali ganti pembalut sehari
Siklus: 28 hari, teratur/tidak teratur
Konsistensi: normal
TP : 3-12-2010
UK : 35 minggu 5 hari

2.2  Tanda-tanda kehamilan (trismester I)
Hasil tes kehamilan (jika dilakukan)
Tanggal: 30-04-2009               hasil: +

2.3  Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : Usia kehamilan 16 minggu
Pergerakan fetus dalan 24 jam terakhir:  > 12kali

2.4    Keluhan yang dirasakan ( bila ada jelaskan )
Rasa lelah                    : Iya, karena kehamilannya semakin membesar
Mual dan muntah yang lama                           : tidak ada
Nyeri perut                                                      : tidak ada
Panas menggigil                                              : tidak ada
Sakit kepala berat / terus menerus                   : tidak ada
Penglihatan kabur                                           : tidak ada
Rasa nyeri/panas waktu BAK                         : tidak ada
Rasa gatal pada vulva vagina dan sekitarnya : tidak ada
Pengeluaran cairan darah pervaginam : tidak ada
Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai         : tidak ada
Edema                                                              : tidak ada

2.5    Diet/makan
Makan sehari-hari                                : 3x sehari (nasi, telor, ikan,buah)
Perubahan makan yang dialami          : tidak ada

2.6    Pola eliminasi : BAK : 4-6 x/hari          BAB : 1x/hari

2.7    Aktivitas sehari-hari
Pola istirahat dan tidur : Siang : ±30 menit       Malam : 7-8 jam/hari
Seksualitas                     : tidak ada masalah dan gangguan
Pekerjaan/kegiatan sehari-hari: Tidak ada masalah
2.8    Imunisasi TT1 tanggal:  3-5-2010         TT2 tanggal: 4-6-2010

2.9    Riwayat kontrasepsi yang pernah dipakai: suntik 3 bulan (3 tahun)

3.      Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
No.
Tgl/th
Persalinan
Tempat
Persalinan
Usia
Kehamilan
Jenis
Persalinan
Penolong
Penyulit
Kehamilan dan persalinan
Anak

1
2..
2006
Hamil ini
puskesmas
aterm
spontan
bidan
Tidak ada
3500
49
Sehat


4.      Riwayat kesehatan
4.1 Riwayat penyakit yang sedang atau pernah diderita
Jantung                                       : tidak ada
Tekanan darah tinggi                 : tidak ada
Hepatitis                                     : tidak ada
Diabetes mellitus                        : tidak ada
Anemia berat                              : tidak ada
Penyakit hubungan seksual        : tidak ada
Campak                                      : tidak ada
Malaria                                       : tidak ada
Tuberkulosis                               : tidak ada
Gangguan mental                       : tidak ada
Operasi                                       : tidak ada
Lain-lain                                     : tidak ada

4.2 Perilaku kesehatan
Penggunaan alkohol/obat-obatan sejenisnya      : tidak
Obat-obatan/jamu yang sering digunakan         : tidak ada
Merokok/makan sirih                                         : tidak
Irigasi vagina/ganti pakaian dalam                     : tidak / 2-3x perhari


5.      Riwayat sosial
5.1 Apakah kehamilan ini direncanakan/diinginkan: diinginkan
5.2 Apakah jenis kelamin yang diharapkan             : ♂
5.3 Status perkawinan
Jumlah                            : 1 (satu) kali
Lama perkawinan           : 5 (lima) tahun
5.4 Susunan keluarga yang tinggal serumah
No.
Jenis kelamin
Umur
Hub. Keluarga
Pendidikan
Pekerjaan
Keterangan
1.
2.
26 th
4 th
Suami
anak
SMP
-
swasta
-
Sehat
sehat

5.5 Kepercayaan yang berhubungan kehamilan, persalinan, dan nifas : tidak ada
6. Riwayat kesehatan keluarga  : tidak ada

II. Data Ojektif (O)
1.      Keadaan umun                  : Baik                           Kesadaran       : Compos mentis
Keadaan emosional           : Stabil
2.      Tanda Vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg           Denyut nadi    : 78 x/menit
Suhu tubuh      : 36,5 oC                     Pernafasan       : 18 x/menit
3.      Tinggi badan         : 165cm                                   Berat badan     : 68 kg
Kenaikan BB selama hamil : 7 kg
4.      Pemeriksaan fisik
4.1.      Rambut              : hitam, panjang, bergelombang, bersih
4.2.      Muka                  : Kelopak mata : tidak edema
                                      Konjungtiva    : tidak pucat
                                     Sclera               : tidak ikterik
4.3.      Mulut dan gigi   : Lidah&geraham : bersih, tidak adaepulis&lubang
                                      Gigi                           : bersih,tidak ada caries
4.4.      Kelenjar thyroid : Pembesaran kelenjar : tidak ada
4.5.      Kelenjar getah bening : Pembesaran      : tidak ada

4.6.      Dada      : -
Jantung   : -
Paru        : -
Payudara            : Pembesaran   : tidak ada
                Putting susu   : menonjol
               Simetris           : simetris
               Benjolan/tumor: tidak ada
               Pengeluaran     : belum keluar ASI
               Rasa nyeri       : tidak ada
               Lain-lain          : tidak ada

4.7.      Punggung dan pinggang
Posisi tulang belakang    : lordosis fisiologis
Pinggang nyeri               : tidak ada

4.8.      Ekstremitas atas dan bawah :     Edema                         : tidak ada
                                                            Kekuatan sendi           : ka/ki  + / +
                                                            Kemerahan                  : tidak ada
         Varises : tidak ada                     Refleks                        : ka/ki + / +

4.9.      Abdomen :
Bekas luka operasi : tidak ada               Pembesaran : tidak ada
Konsistensi             : agak keras             benjolan       : tidak ada
Pembesaran lien/liver     : tidak ada

4.10.  Palpasi uterus
Leopold I                       :
Tinggi FU                       :36cm
 FU terisi                        : 1 bagian bulat,keras, melenting
Leopold II kiri teraba     :1 bagian keras,memanjang,seperti papan
Leopold II kanan teraba            : 1 bagian keras,memanjang,seperti papan
Leopold III bagian bawah terisi            : 1 bagian bulat,keras,melenting
Leopold IV                    : kepala belum masuk PAP
TBBJ                              : 36-11x155= 3875 gram
Kontraksi                       : ada
Frekuensi                        : 3-4 kali
Kekuatan                        : kuat
Palpasi supra pubik kandung kemih       : kosong

4.11.  Fetus      : Letak : memanjang    Presentasi : ja. 1:kepala.2:bokong
                         Pergerakan : ada
         Auskultasi                      : Denyut jantung fetus : ada
                                     Frekuensi                    : janin 1 : 144x/menit
                                                                           Janin 2 : 137x/menit
         Punctum maximum        :  janin1 : 3 jari d bawah pusat puka ibu
                                                   Janin 2 : 3 jari di atas pusat puki ibu


5.      Pemeriksaan laboratorium
Darah : Hb : 11,6 gr%                               golongan darah : O +
Urine : protein : -                                       reduksi                        : -
Pemeriksaan penunjang lain : USG

III. INTERPRETASI DATA
            Identifikasi diagnosa, Masalah, dan Kebutuhan
Diagnosa Ibu = G P A0 H 35 minggu 5 hari dengan Gemelli
DS       : - Ibu mengatakan ini kehamilan yang kedua
              - ibu mengatakan pernah melahirkan satu kali
  -Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran sebelumnya
  - Ibu mengatakan haid terkhir pada tanggal 27-3-2010
                        DO      : TP : 3-12-2010                      TTV :   TD : 100/70 mmHg
UK : 35 minggu 5 hari                     N   : 36,5 oC
TB : 165 cm                                     R   : 18 x/menit
BB : 68 kg                                        S   :  78 x/menit
LiLA : 28 cm
Masalah : - Ibu mengatakan pernah mengaami sesak nafas karena perutnya yang membesar.
Kebutuhan :    - penkes tentang perubahan fisiologis kemahilan pada trimesterIII
-          penkes tentang tanda-tanda bahaya kehamilan pada trimester III
-          penkes tentang pentingnya pola istirahat
-          penkes tentang menjaga personal hygiene
-          penkes tentang persiapan persalinan
-          diskusikan jadwal kunjungan  ulang
-          menjelaskan hasil pemeriksaan
-          dokumentasi hasil pemeriksaan

IV. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Identifikasi diagnosa, dan masalah potensial sesuai dengan diagnosa dan masalah yang sudah diidentifikasi
G P A0 H 35 minggu 5 hari dengan Gemelli

V. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
-          Kolaborasi dengan dokter SPOg
-          Menegakan diagnose dengan USG
-          Rujuk pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi

VI. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
            Merencanakan asuhan secara menyeluruh dengan rasional meliputi:
1.      Terapi dan asuhan
2.      Pendidikan kesehatan
3.      Konseling
4.      Kolaborasi (bila diperlukan)
5.      Rujukan (bila diperlukan)
6.      Tindak lanjut
·         Bina hubungan baik antara bidan dengan klien
·         Jelaskan hasil pemeriksaan
·         Jelaskan penkes tentang perubahan fisiologis kemahilan pada trimester III
·         Jelaskan penkes tentang tanda-tanda bahaya kehamilan pada trimester III
·         Jelaskan penkes tentang pola istirahat
·         Jelaskan penkes tentang personal hygiene
·         Jelaskan tentang persiapan persalinan
·         Diskusikan kunjungan ulang 1 minggu kemudian
·         Dokumentasikan hasil pemeriksaan

VII. PELAKSANAAN
Melaksanakan rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah V
·         Membina hubungan baik antara bidan dengan klien
·         Menjelaskan hasil pemeriksaan bahwa klien dan bayinya saat ini dalam keadaan sehat.
·         Menjelaskan perubahan fisiologis kemahilan pada trimester III yaitu ibu merasa agak sesak karena perut yg semakin membesar, sering BAK,kelelahan.
·         Menjelaskan tanda-tanda bahaya kehamilan yaitu sakit kepala yang hebat, pandangan kabur dan nyeri epigastrium
·         Menjelaskan pola istirahat yang baik, yaitu tidur atau istirahat cukup pada siang hari dan malam hari
·         Menjelaskan tentang pentingnya menjaga personal hygiene yaitu mandi 2x1hari dan ganti pakaian dalam minimal 2x perhari
·         Menjelaskan tentang persiapan persalinan yaitu penolong, kendaraan, uang dan pendonor darah.
·         Mendiskusikan kunjungan ulang 1 minggu kemudian atau jika ada tanda-tanda persalinan
·         Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

VII. EVALUASI
·         Hubungan antara bidan dan klien terbina dengan baik
·         Ibu merasa senang setelah mengetahui hasil pemeriksaan
·         Ibu menerima penjelasan penkes dan dapat mengulang hal-hal yang penting untuk diketahui
·         Ibu mengetahui waktu kunjungan berikutnya dan bersedia akan datang kembali pada waktu tersebut atau bila ada keluhan
·         Hasil pemeriksaan telah didokumentasikan


                                                                                                Jakarta, 3 november 2010
                                                                                                            Pemeriksa



                                                                                                  ( .................................)



Pembimbing akademi                                                              CI/ Pembimbing Lahan



(                                   )                                                           (                                   )                                              










BAB IV
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda/ gemelli (2 janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), Quintiplet ( 5 janin ) dan seterusnya dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang.
  1. Saran
Saran penulis bagi ibu hamil yang mengandung lebih besar dari usia kehamilannya segera konsultasikan pada tenaga kesehatan terdekat. Agar cepat  terdeteksinya apabila ditemukan kelainan.
























DAFTAR PUSTAKA



  1. Prawirohardjo, sarwono ”Ilmu Kebidanan“
  2. Cuningham, garry “Obstetri Williams“